Cerpen Terjemahan Entri 18
Artikel/konten yang sedang Anda coba akses ini merupakan bagian dari materi premium yang kami siapkan secara khusus untuk komunitas pelanggan kami. Untuk menjaga nilai dan kualitasnya, kami melindunginya dengan kata sandi.
Ini adalah cara kami untuk memastikan bahwa para pelanggan mendapatkan materi terbaik dan paling mendalam yang tidak tersedia di tempat lain.
.
Semilir Masa Muda
Ulfat al-Idilbi
Nenek itu memandangi cucunya
yang menata rambut di depan cermin, lalu berkata, “Kau mau ke mana? Ke
universitas atau ke pesta pernikahan? Sejak kapan anak sekolah berdandan
seperti itu? Segalanya berubah sekarang. Bajumu itu, mau kau buat seketat apa?
Tidak adakah rasa takutmu kepada Tuhan? Kalian ini, gadis-gadis sekolah! Ulah
kalian membawa petaka bagi semua orang! Tuhan menahan hujan, harga-harga naik
lagi, lalu Dia kirimkan belalang, wabah penyakit, dan orang-orang asing kepada
kita. Dia bahkan mencabut kasih sayang dari hati manusia. Semua itu karena
kalian, dan kalian masih juga belum belajar dari keadaan!”
“Tapi bukan hanya kau yang
salah!” Si nenek melanjutkan. “Ayahmu juga salah. Dia tak mau mendengarku, tak
mau bersikap tegas agar kau tahu aturan. Laki-laki zaman dulu dan sekarang
benar-benar berbeda! Dulu, ketika aku seumurmu, ayahku pernah memergokiku
berias di depan cermin, padahal aku sudah janda dan punya anak. Ia menjambak
rambutku, menamparku, lalu berkata kejam hingga kuingat sampai hari ini, ‘Untuk
siapa kau berias, gadis tak tahu malu? Aku tak mau punya anak perempuan yang
menghabiskan waktu di depan cermin, paham?’ Sejak itu, aku tak pernah lagi
menata rambut atau memakai rias wajah. Semoga Tuhan mengasihaninya! Ia tahu
cara mendidik anak perempuan. Sedangkan ayahmu, ia akan menyesal nanti, saat
penyesalan tak berguna lagi. Siapapun yang berkata, ‘Khawatir terhadap anak
perempuan berlangsung sejak buaian hingga liang lahat,’ sungguh berkata benar.”
Namun, gadis delapan belas
tahun itu tidak menggubris neneknya, tetap berdandan dengan tenang di depan
cermin. Setelah selesai, ia menyelipkan buku-buku di bawah lengan dan menuruni
tangga dengan cepat, tiga anak tangga sekaligus, sambil bersenandung lagu pop.
Begitu sampai jalan, ia melihat sekelompok teman sekolahnya. Ia menyapa mereka,
bergabung dan berjalan bersama, seolah-olah bagian dari kelompok itu.
Langkahnya ringan dan riang, sementara angin memainkan helaian rambut tebal
yang terurai di bahunya.
Sang nenek di balkon,
memandang cucunya dari kejauhan dengan hati dipenuhi amarah dan iri. Tatapannya
menyala, menahan perasaan getir sambil membandingkan kehidupannya sendiri, yang
terbelenggu oleh tradisi dan larangan, dengan kehidupan bebas yang dinikmati
gadis-gadis kekinian. Tiba-tiba ia bergumam dalam hati, “Apa arti diri kami
dibanding gadis-gadis masa kini? Apa yang pernah kami lihat dari dunia ini?
Semoga Tuhan tidak mengampunimu, Ayah, dan tidak bersikap lembut kepadamu.
Engkau mematahkan masa mudaku sebelum sempat mekar. Engkau merenggut dariku
segalanya, bahkan kesenangan sederhana seperti membaca dan menulis, yang
sebenarnya banyak dinikmati oleh gadis-gadis seangkatanku. Ya Tuhan, aku
sungguh tak mengerti. Apa manfaat yang kau dapat dari semua kekangan itu?”
Ia menarik kursi, duduk, dan
mulai merenung. Pandangan matanya yang masih menatap cucunya, yang riang dan
penuh semangat masa muda itu, membangkitkan kenangan lama. Hari-hari masa kecil
dan masa remajanya tiba-tiba menyeruak kembali. Bukankah kenangan masa
kanak-kanak dan masa muda seperti angin lembut yang berembus di tanah tandus,
membuat batang-batang kering mendadak menghijau, dan duri-duri menjadi mawar
serta lili? Namun, baginya, hanya ada satu semilir kenangan semacam itu. Ketika
duduk termenung, ingatan itu melintas di benaknya, dan seketika ia merasa
kembali berusia empat belas tahun, mengenakan jubah putih longgar dan cadar
tebal menutupi wajah hingga nyaris buta.
Ia berjalan
terpincang-pincang di lorong-lorong sempit Damaskus, ditemani ibunya membeli
sepatu baru. Mereka tiba di pasar Hamadiyya dan masuk ke sebuah toko sepatu.
Seorang pelayan muda, putra pemilik toko, menyambut mereka, dengan cekatan
menampilkan berbagai dagangan sambil menjelaskan kelebihannya satu-satu.
Sepasang sepatu hitam mengilap menarik perhatiannya. Ia duduk di kursi untuk
mencoba. Pemuda itu berlutut untuk membantunya, sementara ibunya sibuk memilih
sepasang sepatu lain untuk diri sendiri.
Tiba-tiba pemuda itu
menyentuh kakinya, menggenggam pergelangannya, dan menekannya lembut. Dengan
suara manis ia berbisik, “Segala puji bagi Sang Pencipta! Aku sudah melihat
banyak hal di toko ini, tapi belum pernah sekalipun menemukan kaki sekecil dan
seindah ini!”
Sentuhan beraninya membuat
tubuh gadis itu gemetaran pelan. Ia terkejut, gugup, sampai menarik kakinya dan
menjatuhkan ujung jubahnya untuk menutupinya. Pemuda itu mendongakkan kepala
dan menatapnya dengan senyum manis menggoda. Tapi, bagaimana mungkin ia bisa
melihat wajahnya di balik cadar hitam itu?
Sebaliknya, ia dapat melihat
jelas setiap bagian wajah pemuda itu; bulat, berkulit gelap, dengan alis hitam
tebal dan mata berkilau. Seolah-olah cahaya mata pemuda itu menembus cadar dan
hinggap di matanya sendiri. Ia menundukkan pandangan dan berbisik pelan,
“Semoga Tuhan melindunginya untuk ibunya.”
Ketika ia meninggalkan toko
itu, membawa sepatu baru di bawah lengan, pemuda itu membuntuti dengan
pandangan yang seakan-akan melahap seluruh dirinya. Ia pun mulai berjalan
dengan kepala tegak, dengan dada membusung di sisi ibunya. Hingga saat itu, ia
sama sekali belum menyadari bahwa dirinya memiliki kecantikan yang mampu
menggugah pujian kepada Sang Pencipta.
Belum jauh ia melangkah,
pemuda lain dengan wajah mirip pelayan tadi datang dari arah berlawanan.
Tangannya refleks mengangkat ujung jubahnya, seolah-olah khawatir kainnya
dikotori debu jalan. Kakinya yang indah dan jenjang pun tampak sesaat. Namun,
pemuda dungu itu tak melihat apa yang telah tersingkap untuknya! Sebaliknya,
seorang lelaki tua berwajah buruk, dengan hidung besar dan mata menonjol, malah
melihatnya. Lelaki itu berteriak dengan suara serak seperti suara ayahnya,
“Turunkan ujung jubahmu, gadis! Semoga Tuhan melaknat semua perempuan, hingga
dari seratus hanya satu yang selamat!”
Seember air panas bagai
disiramkan ke tubuhnya. Ia menurunkan jubah dan berjalan di belakang ibunya
dengan tertunduk, hingga mereka tiba di rumah.
Hari itu tanggal dua puluh
tujuh bulan Rajab. Di antara waktu salat magrib dan isya, ayahnya duduk di
ruang tamu besar, dan keluarga berkumpul mengelilinginya. Dengan lembut dan
rendah hati, ayahnya mulai membaca kisah Mi’raj. Tak lama kemudian, ia
sampai pada bagian yang berbunyi, “Ketika Nabi–semoga kesejahteraan dan rahmat
Allah tercurah kepadanya–berada di langit kelima, beliau meminta melihat
neraka. Di antara hal-hal yang beliau saksikan di sana, ada para perempuan yang
digantung dengan rambut mereka. Nabi bertanya, ‘Wahai Jibril, apa yang
dilakukan perempuan-perempuan itu hingga mereka digantung dengan rambut
mereka?’ Jibril menjawab, ‘Mereka perempuan yang menampakkan daya tarik mereka
kepada laki-laki.’”
Saat itu, ayahnya
seakan-akan menatap tajam ke arahnya. Jantungnya berdegup kencang ketika ia
teringat bagaimana pelayan toko itu merayu, bagaimana sikapnya terhadap pemuda
di jalan, dan bagaimana lelaki tua itu memarahinya. Gambaran
perempuan-perempuan yang digantung dengan rambut muncul di benaknya, membuatnya
diliputi ketakutan hebat. Dalam hati, ia terus memohon ampun kepada Tuhan.
Setelah Isya, ia beranjak ke
kamar untuk merenung. Ia sampai pada kesimpulan bahwa ia sama sekali tak
bermaksud menggoda siapa pun. Pelayan toko itu hanya memuji Sang Pencipta atas
keindahan ciptaan-Nya ketika melihat kakinya. Ia pun bertanya-tanya dalam hati,
“Apakah salah bagi hamba Tuhan memuji Tuhan Yang Maha Kuasa, pencipta kaki
jenjang dan telapak kecil yang halus ini?” Berdasarkan pemikiran yang
menurutnya logis itu, meski mengenakan jubah longgar dan cadar hitam, ia mulai
berani melakukan cara-cara kecil untuk memperlihatkan pesonanya setiap
melintasi pemuda berkulit gelap dengan mata berkilau.
Dua minggu berlalu. Suatu
pagi, ibunya tiba-tiba bertanya, “Ada apa denganmu? Wajahmu murung dan
pikiranmu melayang jauh. Kau sering menyendiri, jarang makan, dan jarang
tidur.”
Ia gugup dan memberikan
alasan sekenanya agar ibunya tak curiga pada badai dalam hatinya. Ia ingin
berterus terang kepada sang ibu, tetapi apa yang bisa ia katakan? Tentang
kerinduan mendalam kepada wajah berkulit gelap dan mata berkilau itu? Atau
tentang hasrat tak tertahankan akan sentuhan berani dan bisikan lembut yang
dulu membuat tubuhnya menggigil?
Oh, betapa ia merindukan
pria itu, pelayan toko sepatu itu. Hasrat cinta menguasai hingga ia tak sanggup
menahan. Siang-malam, bayangan pemuda itu terbit dalam pikirannya, bisikan
lembutnya terus bergema di telinganya. Pada malam-malam tertentu, bayangan itu
menemaninya bobok hingga fajar.
Namun, tiada cara untuk
bertemu lagi dengannya, tidak sebelum sepatu sialan itu rusak. Ia mengambil
sepatu itu dan menelitinya dengan cermat. Bahan dan jahitannya kuat, mungkin
butuh setahun penuh untuk benar-benar usang.
Setahun? Betapa lamanya! Ia
tak kan sanggup menunggu selama itu. Ia berpikir sejenak, lalu tiba-tiba
wajahnya terang. Ia lalu berlari ke ibunya dan berkata dengan panik, “Ibu, adik
membawa sepatu baruku ke taman, lalu melemparkannya ke kanal. Air menyeretnya
pergi!” Ia mulai menangis tersedu-sedu.
Sang ibu pun menghampiri
anak laki-lakinya yang dituduh bersalah. Bocah itu terlalu kecil untuk membela
diri. Ia pun mendapat hukuman. Setelah itu, sang ibu kembali kepada putrinya
yang pura-pura sedih, mencoba menenangkannya dengan janji, “Jangan menangis.
Besok kita pergi ke toko sepatu. Mungkin pelayannya mau membuatkan sepasang
baru. Kalau tidak, kita beli lain saja.”
Keesokannya, saat mereka
menuju toko itu, hati sang gadis dipenuhi harapan besar dan mimpi manis. Ia
berkata dalam hati, “Dulu, dia memuji Tuhan. Tapi kali ini, aku akan membuatnya
mengucap ‘Tiada tuhan selain Allah’ dan ‘Allah Maha Besar.’”
Namun begitu tiba di toko,
pelayan muda itu tidak ada di sana. Ia bepergian untuk urusan dagang, dan
ayahnya menggantikan tempatnya. Untuk pertama kali dalam hidupnya, sang gadis
sadar bahwa dirinya benar-benar bernasib malang. Ia sial, tak ada keraguan tentang
itu.
Malam di hari yang sama,
ayahnya menerima kantong berisi seratus keping emas, dari lelaki tua buruk
rupa, dengan hidung besar dan mata menonjol; orang yang pernah memarahi gadis
itu di jalan. Uang itu mahar untuk meminangnya. Lelaki tua itu, yang dulu menegurnya
karena mengangkat ujung jubah, ternyata jatuh hati padanya sejak saat itu.
Lelaki tua itu diam-diam mengikuti mereka, sampai tahu di mana rumah mereka,
lalu datang malam untuk melamar.
Ayahnya setuju, menyambut
lamaran itu dengan gembira, tetapi menegaskan bahwa lelaki tua itu harus
membayar mahar sebelum pergi. Hari itulah yang menjadi akhir dari kisah
cintanya, akhir dari pertemuan antara cinta dan kekasih.
Gambaran-gambaran dari masa
lampau itu kini muncul dalam benak sang nenek. Ketika kenangan itu sampai pada
ujung kisah yang menyedihkan, matanya dipenuhi air, dan ia menarik napas
panjang disertai desahan berat, meratapi masa mudanya yang hilang, dan hidup
panjang yang kini hampa serta tak berarti. Tenggorokannya tercekat oleh duka.
Ia menggelengkan kepala beberapa kali, menatap jauh ke depan dengan pandangan
kosong, seolah-olah membaca lembar demi lembar buku panjang kehidupannya
sendiri.
Di balkon seberang, ada
perempuan muda yang menarik perhatian. Sang nenek menyeka kacamata, mengenakannya
kembali, lalu memerhatikan perempuan itu dengan saksama.
“Ya Tuhan!” serunya pelan.
“Itu kan tetangga kita, Umm Anton. Kupikir tadi gadis dua puluh tahun! Kalau
bukan karena selendang ungu yang dipakainya, aku tak akan mengenalinya. Umm
Anton jauh lebih tua dariku, tapi ia masih memakai riasan. Semua perempuan
melakukannya kecuali aku! Kenapa aku tidak mencoba sekali saja?”
Setelah pikiran itu
terlintas, ia bergegas ke kamar cucunya dan mulai mengobrak-abrik laci kecil
berisi alat rias. Apa yang dilihatnya membuatnya terpukau. Botol-botol dan
wadah berbagai bentuk dan ukuran, alat-alat logam mengilap bertangkai gading,
dan lipstik beraneka warna merah, ada yang muda, ada yang tua, bahkan ada yang
kekuningan atau kebiruan. Ia juga menemukan alat dengan gagang seperti gunting
dan ujungnya berbentuk setengah lingkaran. Ia pernah melihat cucunya
menggunakan alat itu untuk melentikkan bulu mata, dan saat itu ia mengejek,
“Semoga kau menusuk bola matamu dengan alat itu dan mati demi kecantikan.”
Tidak, pikirnya, alat itu
berbahaya sekali. Ia tak boleh dan tak akan menggunakannya. Dari semua benda,
tak satu pun menarik perhatiannya kecuali botol kecil berisi cairan putih
kental. Ia membaliknya di tangan sambil bergumam, “Ini pasti cairan yang dulu
digunakan penata rias di wajahku pada malam pernikahan. Benar, cairan ini punya
khasiat ajaib.”
Ia mengoleskannya ke wajah,
lalu menatap cermin dan berkata pelan, “Demi Tuhan, aku jauh lebih cantik dari
Umm Anton!”
Setelah itu, ia mengambil
botol kecil lain berisi cairan merah mengilap. Ia terpikat kilau warnanya.
Begitu dibuka, aroma tajam menusuk hidungnya, tetapi ia tetap mengambil sedikit
dan mengoleskannya ke pipi dan bibir.
Tiba-tiba, sebuah wajah
buruk rupa menatapnya dari cermin. Kejelekannya membuatnya kaget dan takut
sendiri. Ia mundur selangkah tanpa sadar ke mana kaki melangkah, lalu
tersandung patung marmer yang diletakkan cucunya di dekat cermin, lalu jatuh ke
lantai. Ia seketika pingsan setelah patung menimpa kepalanya.
***
Keesokannya di klub berkuda,
cucunya mengisap rokok sambil berkata kepada teman-temannya, “Aku tidak tahu
apa yang terjadi pada nenekku kemarin. Saat aku meninggalkannya pagi-pagi,
keadaannya baik-baik saja, seperti biasa memberiku ceramah panjang. Tapi sepulang
dari kampus, aku mendapatinya masuk ke kamarku sewaktu aku pergi. Itu hal yang
tak pernah dilakukannya sebelumnya. Dan ia memecahkan patung yang dibuat oleh
temanku dengan menjadikanku sebagai model. Sayang sekali, patung itu
benar-benar indah.”
“Ia juga mengacak-acak
laciku, membuat semuanya berantakan. Ia mengoleskan seluruh isi botol minyak
rambut mahal ke wajahnya, dan memoles pipinya dengan cat kuku. Wajahnya sudah
berkerut hingga cat itu tidak bisa dibersihkan lagi. Dan sepanjang waktu ia mengigau
tentang pemuda berkulit gelap dengan alis tebal dan mata berkilau. Setiap kali
melihatku, ia membuka kain yang menutupi kakinya yang sudah tua itu dan
bertanya dengan sungguh-sungguh, ‘Pernahkah kau melihat sesuatu yang lebih
indah dari ini?’ atau ‘Tidakkah kau pikir aku lebih cantik ketimbang Umm
Anton?’”
Seorang pemuda dengan selera
humor yang nakal menyahut, “Siapa tahu, mungkin kemarin kenangan masa muda
nenekmu tiba-tiba kembali dan membuat pikirannya kacau!”
Ucapan itu membuat mereka
semua terbahak-bahak.
.jpg)