Betina yang Memasak Rindu - Borsalino

Juara 5 - Love in Sadness S3



Betina yang Memasak Rindu
Borsalino

 

Ulah ngali kubur sorangan lamun teu hayang dikubur ku leungeun sorangan.”

 

Pertama, tangannya tidak gemetar dan itu yang paling mengkhawatirkan. Kedua, jari-jarinya bergerak dengan tenang seperti sedang mengaduk racun ke dalam ramuan. Ketiga, lampu dapur kosnya berwarna putih pucat, warna yang lebih mirip seseorang ketika sekarat daripada menerangi ruangan itu sendiri, belum lagi kipas angin di langit-langit yang berdengung monoton. Sisanya tidak ada yang berubah. Di luar jendela yang setengah terbuka, dengan kibasan gordennya melambai-lambai pelan, hanya terdengar suara biasa: kendaraan bising, tawa penghuni sebelah kos, dan tak ketinggalan anjing menggonggong di kejauhan. Semua sangat biasa itulah yang membuatnya mengerikan.

 

Di meja kayu yang tidak beralas, toples selai stroberi buatan Mara sendiri menunggu—tutupnya terbuka, isinya merah pekat seperti pembuluh darah. Ke dalamnya, Mara menjatuhkan isi bungkusan plastik hitam itu sedikit demi sedikit. Baunya seperti empedu yang pecah di dalam perut, pahit yang tidak keluar dari mulut, tapi naik pelan-pelan ke tenggorokan dan berdiam lama di sana.

 

Ia aduk. Searah jarum jam. Tiga kali putaran.

 

Besok lusa, ulang tahun Kiara. Mara akan membawakan selai stroberi ini sebagai hadiah. Kiara selalu bilang selai buatan Mara paling enak sedunia.

 

Mara menutup toples itu. Mencuci tangannya sampai bersih di bawah air kran yang dingin. Lalu pergi ke kamarnya. Di rak dinding kamar, buku-buku disusun bukan berdasarkan abjad, melainkan berdasarkan urutan kapan ia membacanya. Kebiasaan yang hanya masuk akal baginya sendiri, persis seperti banyak hal lain dalam hidupnya yang hanya masuk akal baginya sendiri.

 

***

 

Dua tahun sebelum malam itu, Mara duduk di sudut ruang latihan UKM Teater dengan laptop di lutut dan naskah babak dua yang belum selesai di layarnya. Ia baru bergabung di awal semester, bukan karena ingin tampil di panggung—melainkan karena nama Bara Ardhana ada di struktur kepengurusan yang tertempel di mading kampus: Ketua Divisi Dokumentasi.

 

Saat itu, Mara belum mengenal Bara. Hanya fotonya, wajah yang tampak seperti tidak pernah sepenuhnya berhenti memperhatikan sesuatu.

 

Kemudian pintu belakang terbuka.

 

Bara masuk terlambat dua puluh menit dengan kamera di lehernya dengan langkah seperti seseorang yang tidak pernah benar-benar terlambat.

 

“Sorry telat!” Ia mengangkat satu tangan ke arah ketua divisi. “Biasa, jalanan ...”

 

“Macet? Habis bensin?” sahut seseorang dari barisan aktor.

 

“Tiap hari.” Bara tersenyum tanpa malu-malu, dan seisi ruangan tertawa.

 

Kamera diarahkan, Bara langsung memotret, tanpa permisi, tanpa basa-basi. Dan anehnya, semua orang terlihat lebih nyata di dalam bingkainya daripada di kenyataan itu sendiri.

 

Dan Mara saat itu tidak ikut tertawa. Ia hanya mencatat.

 

Rapat itu berlanjut sampai pukul sebelas. Satu per satu anggota pulang. Mara masih merevisi dialog babak tiga yang terasa kaku. Bara mengedit foto di sudut lain. Hanya mereka berdua yang tersisa ketika AC mati dan udara ruangan mendadak berat.

 

“Kamu nggak pulang?” tanya Bara.

 

Mara menjawab tanpa menoleh. “Nanti, dikit lagi.”

 

Beberapa menit kemudian, jaket mendarat di bahunya.

 

“Kamu kelihatan kedinginan.”

 

Mara mendongak. “Nggak perlu …”

 

“Udah, pake aja.”

 

Belum sempat menjawab, Bara sudah balik ke kursinya. Bagi Bara gestur itu tidak lebih dari refleks—melihat, merespons, selesai. Tapi bagi Mara, itu adalah sebuah peristiwa. Ia pulang malam itu dengan jaket orang lain di tangannya dan menulis empat halaman di jurnalnya tentang sepuluh detik yang tidak ada artinya itu.

 

Begitulah cinta tumbuh pada seseorang yang terbiasa hidup dalam sunyi: pelan, menyeluruh, dan tanpa ada yang tahu.

 

Kiara adalah sahabat Mara sejak ospek, ditempatkan di kelompok yang sama secara kebetulan, tapi bertahan bertahun-tahun bukan karena kebetulan. Mereka saling melengkapi dengan cara yang tidak pernah mereka sadari: Kiara yang bicara, Mara yang mendengarkan. Kiara yang tertawa duluan sebelum ada yang lucu, Mara yang mencatat kenapa sesuatu bisa menjadi lucu.

 

Di semester enam, Mara mengajak Kiara ke acara pentas UKM Teater. Ia ingin dua dunia terpenting dalam hidupnya bertemu. Keputusan itu terasa seperti seseorang yang dengan tangannya sendiri menggeser batu pertama dari tebing.

 

Kiara masuk ke ruangan itu dan dalam dua puluh menit sudah tahu nama semua orang, termasuk Bara. Mereka bicara tentang fotografi, tentang framing, tentang bagaimana cara memutuskan momen mana yang layak diabadikan.

 

“Semuanya layak, apa pun bisa menjadi momen yang penting,” kata Bara. “Pertanyaannya adalah, kapan kamu siap menekan tombol. Lalu mengabadikannya.”

 

“Itu filosofis banget sih untuk orang yang terlambat dua puluh menit tadi,” balas Kiara. Terkekeh kecil.

 

Bara tertawa. Mara menyaksikan ini dari jarak tiga meter.

 

Dan dari momen singkat itu, hubungan mereka makin dekat. Sampai pada enam bulan kemudian, Kiara duduk di lantai kamar kos Mara, kaki bersila, ekspresi seseorang yang menahan sesuatu yang sangat ingin dilepaskan.

 

“Mar …”

 

Ingin rasanya Mara menebak sebelum Kiara ucapkan. Baginya, ada satu detik di mana semua yang mungkin terjadi masih bisa tidak terjadi. Dan detik itu berlalu. Mara menatap dalam ke arah mata Kiara dan menunggu kata-kata itu keluar.

 

“Bara.” Kiara menggigit bibirnya, senyum malu muncul di sudut mulutnya. “Aku nggak tau ini apa, Mar, beneran. Tapi tiap kali dia nanya kabar duluan, jantungku tuh aneh. Dag-dig-dug nggak jelas gitu.”

 

“Serius?” Mara tersenyum. Otot pipinya bergerak dengan sempurna.

 

“Aneh banget ya aku …”

 

“Nggak aneh, kok. Udah bilang ke dia?”

 

“Kamu nggak keberatan? Tapi kan dia teman UKM kamu ...”

 

“Nggak apa-apa, Ra. Justru bagus.” Mara meraih tangan Kiara. Menggenggamnya erat. “Kamu Kiara Nagini. Siapa yang berani nolak kamu.”

 

Kiara tertawa dan memeluknya. Mara membalas pelukan itu sambil merasakan sesuatu yang akan sangat lama sekali ia akui sebagai kebencian, karena kebencian kepada orang yang paling kamu sayangi adalah jenis yang paling sulit dinamai.

 

Setelah Kiara pergi, Mara membuka jurnalnya. Menulis satu kalimat: Aku yang memperkenalkan mereka. Menutupnya. Tidak membuka lagi selama tiga minggu.

Tiga minggu itu adalah tiga minggu paling berbahaya dalam hidupnya. Orang yang biasa memproses segalanya lewat tulisan, ketika tiba-tiba berhenti menulis—semua yang tidak tertulis tidak pergi kemana-mana. Ia tenggelam ke lapisan yang lebih gelap. Ke tempat yang tidak ada cahayanya. Ke tempat di mana rasa sakit mulai berubah bentuk.

 

Bara dan Kiara resmi berpacaran di akhir semester enam. Fotonya diunggah di Instagram. Kiara tertawa ke kamera, Bara menatap Kiara dengan cara yang tidak pernah ia gunakan untuk menatap siapa pun. Caption-nya satu kata: Lovely.

 

Sembilan ratus tiga puluh orang menekan like. Mara adalah yang pertama.

 

Selama dua bulan, Mara telah sempurna. Inilah yang tidak ada yang tahu: perempuan yang paling berbahaya bukan yang meledakkan amarah, melainkan yang belajar dalam diam dengan sangat baik. Di permukaan: ia tempat Kiara curhat tentang Bara, ia yang Bara tanya menurut kamu Kiara sukanya apa dan menjawab dengan akurat karena ia memang paling mengenal Kiara. Di bawah permukaan: kebencian tumbuh pelan-pelan seperti jamur di tembok lembab, tidak kelihatan sampai tiba-tiba sudah menggerogoti semua cat.

 

Penah di suatu sore Mara menyaksikan Bara menjemput Kiara di depan gedung Psikologi—momen yang terlampau biasa untuk seberat apa yang ia rasakan—kakinya membawa ia ke gang belakang kampus. Ke papan nama yang memudar. Ke warung Mak Sum.

 

Mak Sum adalah perempuan tua yang usianya tidak bisa diperkirakan. Ia punya wajah yang tidak bisa diintimidasi. Dan ia sudah melewati semua yang bisa membuat wajah menjadi keras. Yang tersisa di sisi lain dari itu bukan ketangguhan. Yang tersisa adalah sesuatu yang lebih tenang dan lebih menakutkan dari ketangguhan. Tangannya selalu bergerak menyiapkan sesuatu, tapi matanya diam dengan cara yang membuat orang merasa isi kepalanya sedang dibaca tanpa izin.

 

Ia menyodorkan segelas teh kepada Mara tanpa ditanya. Duduk di seberang. Memandang.

 

“Saha anu nyieun nyeri hate maneh?”

 

Mara mengangkat wajahnya. “Maaf?”

 

“Siapa yang menyakiti hatimu?” Mak Sum menatap lekat-lekat ke arah Mara. “Wajahmu bercerita sendiri. Itu tidak bisa bohong.”

 

Mara tidak menjawab langsung. Meminum tehnya. Membiarkan rasa pahit itu tinggal sebentar di lidahnya.

 

“Seperti ini ternyata rasanya sakit hati,” kata Mara akhirnya. “Meski memang aku yang salah. Aku terlalu takut untuk mengutarakan perasaanku. Tapi nasi sudah menjadi bubur, apa mau dikata.”

 

“Siapa? Lelakinya, atau perempuannya?”

 

Ada jeda lama sebelum Mara bicara. “Perempuannya.”

 

Mak Sum mengangguk pelan. Tidak heran. Tidak menghakimi. Berdiri, masuk ke balik tirai dapur, dan kembali dengan bungkusan kecil berbalut plastik hitam yang diletakkan di meja dengan gerakan sangat biasa—seperti menyerahkan uang kembalian.

 

“Ini yang kamu butuhkan!”

 

“Apa ini?”

 

“Anggap saja sesuatu yang kamu cari selama ini.”

 

Mara hanya menatap bungkusan itu. Menimang dengan penuh perhitungan, apa akan ia terima atau tidak.

 

“Entahlah, aku tidak tahu. Tapi … makin hari, makin sakit hati ini melihat mereka berdua.”

 

Mak Sum tidak bertanya lagi.

 

“Campurkan ke makanan atau minuman. Aduk tiga kali, searah jarum jam.” Tatapannya menancap. “Ingat! Apa pun yang kamu lakukan, semua akan kembali pada pemiliknya. Pada pengirimnya! Dan itu kamu sendiri! Berbeda bentuk tapi pasti!”

 

Sekali lagi Mara hanya menatap bungkusan itu. Makin dalam, makin besar pula jika ia menahan rasa sakitnya.

 

“Mungkin tidak ada pilihan lain,” ucap Mara berbisik.

 

Mak Sum tersenyum tipis—senyum yang tidak menjangkau matanya. “Dalam bungkusan itu ada catatan bagaimana kamu harus melakukannya.”

 

Mara tidak membalas. Ia memasukkan bungkusan itu ke dalam tasnya dan pergi.

 

Demi gelap yang melahap siang, demi sakit yang tidak kunjung hilang. Mara berubah menjadi perempuan yang kehilangan akal.

 

Lampu di dapur kosnya berkedip-kedip memberikan rona pias pada permukaan selai stroberi itu, merah yang terlalu pekat, seperti nyala denyut nadi yang kian mendidih. Mara berdiri mematung, merasakan keheningan dinding-dinding kos yang seolah ikut menahan napas. Di antara jemarinya, bubuk halus itu luruh perlahan; butiran-butiran kusam yang membawa aroma jahanam dan dendam yang telah lama mengerak di dasar tenggorokannya.

Tangannya tidak gemetar. Ada ketenangan yang mengerikan dalam gerak jemarinya, seolah-olah seluruh sisa hidupnya memang hanya dipersiapkan untuk momen krusial di atas meja dapur. Setiap butir bubuk yang tenggelam ke dalam kemerahan selai adalah bagian dari dirinya yang ia lepaskan—rasa malu dan amarah kian menjadi bayangan di balik punggung Mara.

Bibirnya mulai bergerak, merapalkan ajian. Mantra Mak Sum bukan sekadar rapalan doa, melainkan sebuah kontrak tubuh pengguna. Mara bisa merasakan lidahnya mendadak pahit, sementara di dalam toples itu, selai stroberi seolah berdenyut, hidup, dan siap menyesap siapa pun yang berani mencicipi manisnya yang palsu. Mara tidak sedang memasak; ia sedang merakit sebuah dosa di dalam toples kaca, sebuah sihir yang lahir dari jiwa perempuan yang tersingkirkan.

 

Getih haneut, hate beuleum,

Nu dipikanyaah jadi peureum,

Sirik jadi seuneu,

Seuneu jadi lebu,

Lebu nyusup kana jasad,

Jasad koceak, sukma balaga.”

 

Mara meniupkan selai itu dari segala arah mata angin. Lalu menutupnya rapat. Bibirnya tertarik kaku, serupa sayatan silet di atas kulit dingin; senyum yang lahir dari dendam, merayakan dosa yang kini berdenyut bebas di balik rusuknya yang hampa. Dan siap menguliti cantik wajah sahabatnya sendiri.


***

 

Kiara mulai berubah dua minggu setelah ulang tahunnya.

 

Dimulai dari mimpi. Ia terbangun setiap pukul tiga pagi dengan napas tersengal dan telapak tangan basah kuyup. Isi mimpinya tidak bisa ia ceritakan. Yang tersisa tiap pagi hanyalah sensasi, dada yang seperti diinjak dari dalam, dan wajah yang perlahan tidak jelas bentuknya.

 

Rambutnya rontok dalam jumlah yang membuat Bara terdiam lama saat pertama melihatnya tergeletak di bantal. Napsu makannya hilang. Tubuhnya demam datang-pergi tanpa pola yang bisa dijelaskan dokter mana pun. Kulit di ujung jari-jarinya mengelupas, meninggalkan bekas merah keunguan yang pedih bila tersentuh air.

 

“Kamu harus ke dokter lagi, Ra,” kata Bara. Ia duduk di tepi kasur kamar kos Kiara, menatap kekasihnya yang kini tampak tipis dan pucat dari dirinya sendiri.

 

“Udah tiga kali, Bara. Hasilnya tetap sama. Normal.”

 

“Gimana bisa?!” Ia menghentikan kalimatnya. Menelan sisanya.

 

“Apa kamu takut?”

 

Bara menggeleng. “Tidak! Aku hanya ingin kamu sembuh, Ra!”

 

Kiara menarik napas panjang. “Bar, aku ngerasa ada yang aneh. Ada yang ngikutin aku. Entah itu apa. Kayak ada sesuatu di dalam dadaku yang bukan punyaku.”

 

Kiara terdiam sejenak, menatap Bara dalam, seolah kalau yang dialaminya hanya mimpi. “Jelas itu nggak masuk akal, kan? Aku mahasiswi Psikologi, dan ini bertentangan dengan apa yang aku pelajari. Semua ini terlalu di luar logika, Bar.”

 

“Jangan ada yang disembunyikan dariku, Ra!”

 

“Aku takut.” Kata itu keluar sangat pelan. “Ini pertama kalinya aku takut sama sesuatu yang hal di luar pengetahuanku.”

 

Bara memegang tangannya. Jari-jari Kiara terasa dingin dengan cara yang tidak seharusnya untuk ruangan yang cukup hangat.

 

“Istirahatlah dulu, Ra. Jangan terlalu memikirkan hal yang tidak pasti.” Bara memeluk Kiara. “Aku akan menemanimu.”

 

Kiara hanya mengangguk kecil. “Terima kasih.”

 

Malam itu, setelah Kiara tertidur, Bara membuka galeri fotonya—kebiasaan lama, menyortir gambar yang belum diarsipkan. Di antara ratusan foto pentas teater bulan lalu, matanya berhenti pada satu gambar yang tidak disengaja, foto yang seharusnya menangkap penonton di baris belakang, tapi di sudut kirinya, lensa mengabadikan wajah Mara yang sedang menatap ke arah Kiara.

 

Ekspresi itu. Bukan tatapan sahabat. Sesuatu yang lebih lapar, lebih gelap, lebih jahat dari apa pun yang pernah ia bayangkan bisa ada di wajah seseorang yang ia kenal.

 

Bara meletakkan ponselnya. Jantungnya berdetak tidak teratur.

 

***

 

Malam kematian itu datang tanpa hujan. Kiara terbangun dengan rasa panas di perut. Ia melihat dapur seperti berlapis kabut. Di sudut ruangan, ia merasa ada seseorang berdiri—perempuan berambut panjang, memegang garpu.

 

“Ma … ra?”

 

Kiara mencoba memanggil ke arah sosok yang diduga sahabatnya itu, tapi tidak ada jawaban.

 

Kiara meraih pisau yang tergeletak di meja. Berjaga-jaga jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Namun, setelahnya hal yang tidak masuk akal terjadi.

 

Sosok di hadapan Kiara mulai terlihat jelas, seiring menipisnya kabut aneh di dalam rumahnya. Kiara terbelalak, mencoba teriak, tapi tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya yang mulai pasi.

 

Kiara sebisa mungkin mencoba bergerak, setidaknya ia bisa lari dari sosok itu. Namun, tidak semudah yang ia bayangkan. Sosok itu menghampiri Kiara, perlahan-lahan, makin dekat, makin nyata.

 

Wajah sosok itu rusak seperti bekas terbakar, pada mata kanannya hanya menyisakan tulang rongga mata, sedang bagian kiri, matanya menggelayut keluar. Kulit bibirnya melepuh tak tersisa, menyisakan tulang yang terlihat seperti tengkorak.

 

Bau amis bercampur darah dan nanah busuk keluar dari sosok itu. Bajunya yang merah seperti menyatu dengan tubuh sosok itu. Kiara masih mencoba berteriak, dengan sisa tenaga yang ada. Dan ketika sosok itu hanya beberapa senti di hadapannya, ia lenyap seperti asap yang tertiup angin.

 

Tapi … sesuatu yang buruk baru saja dimulai.

 

Saat Kiara sadar sosok itu hilang, ia mencoba bergerak dan lari keluar dari kosnya. Namun sayang, ia tiba-tiba terhenti, menggeliat tak karuan seperti ada yang mengambil alih tubuhnya. Matanya merah. Sekujur tubuhnya menjadi pucat, sampai terlihat urat-urat menyembul keluar.

 

Perlahan tangannya bergerak sendiri, yang masih memegang pisau. Pertama, pisau itu ia tusukkan ke telinga bagian kanan, satu kali, dua kali, tiga kali, terus menerus sampai terhenti sendiri.

 

Kiara terduduk, bersimpuh di kakinya sendiri, wajahnya berubah menjadi sosok yang mengerikan, bola matanya kini sudah hitam sepenuhnya. Lalu mengulangi gerakan yang sama. Kali ini, tangannya bergerak menusukkan di bagian dada berkali-kali, merobek bajunya, lalu memotong kedua putingnya.

 

Masih belum puas, tangannya bergerak ke area vital lainnya. Kiara dengan kesadaran yang hilang, kini duduk melebarkan kedua kakinya. Lalu menghujam berkali-kali ke arah kelaminnya, sampai robek, sampai tak berbentuk. Dengan gerakan terakhir tangannya, ia menancapkan pisau ke mata kanannya dan tertanam di sana. Setelah itu Kiara diam tak bergerak. Jatuh bersimbah lautan darah. Mati dengan mengenaskan meski ia tak pernah melakukan dosa, dan tak pernah berpikir merebut Bara dari Mara. Mati yang memang harus mati karena orang lain sakit hati.

 

***

 

Kiara ditemukan tidak pada suatu Selasa pagi.

 

Bara yang menemukan—ia datang berniat untuk mengajak sarapan seperti biasa, mengetuk beberapa kali tidak ada jawaban. Karena panik, ia mendobrak pintu dan mendapati Kiara tergeletak di lantai dengan kondisi mengenaskan.

 

Bara berlutut. Lututnya mendarat di genangan itu. Tidak ada teriakan, tidak ada kata-kata. Bara menutup mulutnya yang menganga tidak percaya. Di hadapannya, perempuan yang ia cintai berakhir tragis. Tidak ada respons dari Bara. Hanya napas yang memburu seperti benang yang tersisa satu lembar sebelum putus.

 

Jerit Ibu Kiara pecah seperti kaca dilempar ke dinding takdir setelah mengetahui kematian anaknya. Ayahnya berdiri beku dengan mata merah menyala, menolak dunia yang berani merenggut putrinya secara mengenaskan, dan di antara kursi-kursi yang tergeser kasar, sumpah menuntut balas mengeras bagai besi ditempa amarah—siapa pun pelakunya akan mereka buru sampai ke akar malam. Sementara itu Bara masih terguncang, dadanya terasa runtuh perlahan; ia masih memeluk keyakinan rapuh bahwa semua ini hanya mimpi, bukan tubuh terbujur dingin dalam kejam itu, pikirannya menolak percaya, menolak menerima, seakan cinta bisa membatalkan maut.

 

Di pemakaman, Mara berdiri di baris belakang dengan payung hitam. Ibu Kiara pingsan dua kali. Ayah Kiara berdiri dengan rahang mengeras dan mata yang tidak bisa dipaksanya berair di depan orang banyak. Di dekat liang, adik perempuan Kiara yang masih SMA dan tidak mengerti sepenuhnya, memegang foto kakaknya erat-erat.

 

Mara berdiri. Menangis dua tetes yang terasa lebih seperti refleks mata daripada duka. Di depan peti itu, di depan wajah Kiara yang tertutup kain, yang terlihat seperti tidur, yang pertama ia rasakan bukan sesal.

Yang pertama ia rasakan adalah: selesai.

 

Dan rasa selesai yang datang sebelum sesal. Itulah hal paling mengerikan yang pernah Mara rasakan dalam hidupnya. Lebih mengerikan dari semua yang ada di dalam toples selai itu.

 

***

 

Bara menemukan toples selai itu empat hari setelah pemakaman.

 

Ia sedang membereskan barang-barang Kiara di kos—tugas yang diminta keluarga, tugas yang ia pikir bisa ia lakukan tanpa runtuh lagi. Sampai ia membuka lemari dapur kecil itu dan matanya berhenti pada toples dengan label tulisan tangan yang ia hafal: Selai stroberi ‘Selamat Ulang Tahun, Ki! Dari Mara’. Kiara yang pernah bilang sambil menyendok selai itu dengan sendok teh dan memakannya langsung dari toples: enak banget ya, Mar, kamu harus bikin lagi.

 

Bara meletakkan toples itu di meja. Duduk di lantai dapur. Menatapnya.

 

Foto di galerinya. Perubahan Kiara yang dimulai tepat dua minggu setelah ulang tahun itu. Bisik-bisik tentang Mak Sum di gang belakang yang pernah ia dengar dari senior lama, yang dulu ia tertawakan sebagai dongeng orang kos yang terlalu banyak begadang. Dan toples ini.

 

Ia pergi ke kos Mara malam itu.

 

Mara membuka pintu dan melihat wajahnya. Dalam satu detik ia tahu Bara tahu, bukan karena ada bukti yang bisa dibawa ke polisi, melainkan karena ada jenis yang lebih tua dari hukum, lebih primitif dari logika. Tahu yang datang langsung ke sumsum tulang.

 

Mereka duduk di antara tumpukan buku dan jurnal. Bara tidak berteriak. Suaranya sangat pelan, justru karena itu ia lebih menakutkan.

 

“Katakan yang sebenarnya.” Bukan pertanyaan.

 

Mara diam.

 

“Dari awal. Dari sebelum Kiara.” Bara menatapnya. “Kamu yang ajak Kiara ke teater. Kamu yang kenalkan kami. Dan waktu kami jadian …” Ia berhenti. Menelan.

 

“Bara—”

 

“Jawab aku, Mar!” Untuk pertama kalinya suaranya pecah di tepi. “Kamu yang buat Kiara seperti itu?”

 

Sunyi panjang yang tidak bisa diisi oleh kata apa pun.

 

“Aku tidak bermaksud …”

 

“Kamu bunuh Kiara.” Kalimat itu pelan. Padat. “Kiara yang tidak pernah menyakitimu. Kiara menyayangimu lebih dari yang kamu tahu, lebih dari yang kamu layak terima setelah ini.”

 

“Aku minta maaf—”

 

“Maafmu tidak menghidupkan dia, Mar!”

 

Bara berdiri. Mengambil tasnya. Berjalan ke pintu dan menutupnya dengan sangat pelan, tidak membanting, tidak ada kemarahan yang tersisa. Hanya kelelahan yang sangat menguras tenaga.

 

Tiga hari kemudian.

 

Teman satu lantai kos Bara menggedur pintunya karena tidak ada tanda kehidupan sejak dua hari, tidak ada suara musik yang biasanya bocor keluar, tidak ada langkah kaki ke kamar mandi, tidak ada bau kopi yang biasanya menyelinap di bawah pintu tiap pagi. Pintu itu akhirnya dibuka dari luar.

 

Bara ada di sana.

 

Tergantung di gantungan besi yang biasanya ia pakai untuk menjemur handuk, dengan tali dari tas kamera yang sudah ia pakai bertahun-tahun. Kameranya ada di meja, layar masih menyala, menampilkan foto terakhir yang ia edit sebelum semuanya: Kiara tertawa di tangga gedung fakultas, mata memicing ke matahari, rambut sedikit terangkat angin. Foto yang diambil sebelum caption lovely itu, sebelum semuanya menjadi sebelum.

 

Di layar ponselnya yang tergeletak di lantai, ada pesan yang tidak dikirim, ditujukan ke nomor yang sudah dihapus dari kontaknya tapi masih ia hafal: Kiara tidak bisa dihidupkan kembali. Tapi aku bisa menyusulnya. Dan aku tidak mau hidup di dunia yang sama dengan orang yang membunuhnya sementara aku masih bernapas seolah tidak terjadi apa-apa.

 

Ayah Bara datang dari luar kota dengan wajah yang sudah tidak bisa menyembunyikan apa pun di jalan dari stasiun ke sini. Ibu Bara tidak datang, ia pingsan di rumah begitu mendengar kabar dan harus ditunggui tetangga. Adik Bara yang kuliah di kota lain tiba paling terakhir, berdiri di depan pintu kamar abangnya, tidak bisa masuk, hanya menutup mulutnya dengan kedua tangan dan mengeluarkan suara yang tidak mirip tangisan manusia biasa.

 

Kampus berkabung dua kali dalam satu bulan. Dua nama di mading yang sama. Dua foto di layar proyektor yang sama pada acara peringatan yang sama. Dan di baris paling belakang setiap acara itu, ada Mara berdiri dengan ekspresi yang tepat, air mata yang muncul di waktu yang tepat.

 

Tapi setiap malam, ketika pintu kamar kosnya tertutup, tangannya tidak gemetar.

 

Belum.

 

Sementara itu, cerita dan keberadaan Mak Sum menghilang dari gang belakang kampus pada hari yang sama Kiara dimakamkan.

 

Warungnya masih ada. Kompor di dalamnya masih terasa hangat bila disentuh. Tapi perempuan tua itu tidak ada, dan tidak ada yang bisa memastikan kapan terakhir kali benar-benar melihatnya, karena ternyata kenangan orang-orang tentang Mak Sum selalu buram di tepiannya. Seperti foto yang tidak pernah fokus betul, yang semakin lama semakin sulit dibedakan apakah pernah ada atau selalu hanya bayangan.

 

Dan seperti yang sudah dikatakan: apa yang dikirim, akan kembali.

 

Dosa itu kembali ke Mara mulai minggu ketiga setelah Bara ditemukan.

 

Pertama datang suara, sesuatu di sudut kamarnya yang tidak punya sumber. Bukan suara Kiara, bukan suara Bara, sesuatu yang lebih tua dari keduanya. Mara menyalakan semua lampu. Tidak membantu. Suara itu tidak takut cahaya. Ia tinggal di tempat yang lebih dalam dari itu.

 

Kemudian tulisannya sendiri berhenti bisa ia baca. Huruf-huruf di jurnalnya tampak asing, seolah ditulis tangan orang lain. Kalimat-kalimat yang ia tulis malam ini berbeda isinya ketika dibuka pagi. Atau begitulah yang ia yakini terjadi sampai ia tidak bisa lagi membedakan mana yang nyata.

 

Kemudian wajah-wajah. Wajah Kiara di cermin kamar mandi. Wajah Kiara di layar ponsel. Wajah Kiara di kaca jendela perpustakaan di siang hari yang penuh cahaya. Tidak bergerak. Tidak berbicara. Hanya ada, dengan ekspresi yang tidak bisa Mara jabarkan karena wajah itu bukan marah, bukan sedih, sesuatu yang lebih tenang dan lebih mengerikan dari keduanya.

 

Skripsinya terbengkalai. Ia tidak masuk kuliah tiga minggu. Orang tua Mara menelepon setiap hari, ibunya yang awalnya khawatir biasa, lalu khawatir yang sudah berubah jadi sesuatu yang lebih besar ketika Mara mulai menjawab telepon dengan kalimat-kalimat yang tidak nyambung, dengan nama-nama yang tidak dikenal ibunya, dengan tawa yang muncul di tempat yang tidak ada yang lucu.

 

Ayah Mara datang ke kos. Mendapati putrinya duduk di lantai di antara buku-buku yang sudah dirobek dan disusun ulang menjadi sesuatu yang bukan lagi rak, tapi sebuah pola di lantai yang tidak bisa diartikan oleh siapa pun kecuali Mara. Di sekelilingnya, di dinding dan di lantai dan di lembaran kertas yang berserakan, nama Bara ditulis berulang-ulang dalam ukuran yang makin kecil makin ke bawah halaman, sampai hanya titik.

 

“Ara.” Ayahnya berlutut di depannya. “Nak. Bapak di sini.”

 

Mara mendongak. Menatap wajah ayahnya dengan mata yang terbuka lebar. Kosong.

 

“Bara lagi di luar,” kata Mara, dengan nada yang sangat tenang. “Dia nunggu Kiara. Kiara belum bangun, Pak. Kiara masih tidur.”

 

Ayahnya tidak berkata apa-apa. Ia memeluk anaknya erat, dengan cara seseorang yang tahu bahwa apa yang dipeluknya mungkin sudah tidak sepenuhnya ada di sini.

 

Mara dibawa pulang oleh kedua orang tuanya. Tidak melawan. Membiarkan dirinya dituntun keluar dari kos, masuk ke mobil, melewati gerbang kampus yang masih ramai oleh mahasiswa yang tidak tahu apa yang baru saja melintas di depan mereka.

 

Di kursi belakang mobil, ibunya memegang tangannya sepanjang perjalanan. Mara menatap keluar jendela dengan ekspresi yang tidak berubah. Kampus berlalu—gedung Sastra, gedung Psikologi, kantin di mana mereka bertiga pernah duduk bersama, tangga di mana foto akhirnya itu diambil.

 

Di pojok gang belakang yang terlewat dalam sekejap, warung Mak Sum berdiri dalam keremangan sore. Kosong. Tapi Mara meliriknya, dan untuk satu momen yang sangat singkat, senyum kecil terbentuk di sudut bibirnya.

 

Ibunya tidak melihat itu. Ayahnya fokus ke depan.

 

Di rumah sakit jiwa yang bersih dan tenang di pinggiran kota, Mara diterima dengan prosedur yang sangat manusiawi. Seorang psikiater berbicara panjang dengan orang tuanya di ruang terpisah sementara Mara duduk di kursi ruang tunggu, memandang tanaman hias di pot dekat jendela dengan perhatian penuh seolah tanaman itu sedang mengatakan sesuatu yang sangat penting.

 

Orang tua Bara dan orang tua Kiara tidak pernah tahu. Tidak ada yang menghubungkan titik-titik itu menjadi garis, tidak ada bukti, tidak ada saksi, tidak ada yang tahu kecuali satu orang yang kini sudah tidak bisa lagi bersaksi untuk dirinya sendiri.

 

Di kamar putih yang tenang itu, hari-hari bagi Mara semua terasa sama. Sama putihnya. Sama sunyinya. Para perawat mencatat bahwa pasien kooperatif, tenang, tidak agresif. Sesekali Mara meminta kertas dan pena untuk menulis, dengan tulisan yang sangat kecil, nama yang sama berulang kali sampai penanya habis tintanya.

 

Nama itu tidak selalu Bara. Kadang Kiara. Kadang keduanya, bergantian, dalam satu baris panjang yang tidak ada koma dan tidak ada titik.

 

Ia masih ingat pernah mencintai seseorang.

Hanya itu.

Rasanya seperti apa, ia lupa.

Yang tersisa hanya tahu bahwa itu pernah ada,

seperti bekas luka yang sudah rata dengan kulit,

yang hanya terasa kalau cuaca sedang berubah.

 

Tapi cuaca tidak pernah berubah di tempat Mara sekarang.

Di sana semua hari sama.

Sama putihnya.

Sama sunyinya.

Sama tidak adanya nama

untuk apa yang pernah ia masak,

untuk apa yang pernah ia kirim,

untuk apa yang akhirnya ia makan sendiri,

|

sampai habis.

 

 

 

 

Selesai.

 

 

Post a Comment

0 Comments