Dosa-dosa Rindra dan Bagaimana Ia
Menebusnya
Imas Hanifah N
Isi di dalam gerbong kereta menjadi terlalu penuh, bagai muntahan bercampur cairan asam lambung yang tertahan di tenggorokan. Mendesak-desak ingin segera dikeluarkan. Dan Rindra yang lelah, yang baru saja pulang bekerja dari pabrik, secara tiba-tiba, terdorong jatuh ke depan. Kakinya terjerat kaki penumpang lain, hingga wajahnya mengenai tas besar milik seorang penumpang yang beruntung dapat tempat duduk. Entah apa isi tasnya. Satu yang pasti, sang pemilik seperti takut jika seseorang akan mengambil tas besarnya itu. Rindra yang bangkit dari jatuhnya berpikir konyol. Mungkin isinya uang milyaran atau mungkin sesuatu yang lebih berharga daripada itu.
Dan begitu keluar dari kereta,
Rindra merasakan udara terasa lebih sehat. Tidak ada aroma-aroma busuk yang
mengganggu hidungnya lagi.
Setelah itu, dengan segera, secepatnya, ia
menyusuri jalan menuju rumah kontrakan yang ia sewa. Di sanalah, ia tinggal
bersama sang kekasih yang bernama Riana. Seorang perempuan berparas cantik dan
sedikit mirip dengan dirinya dalam beberapa hal.
“Berantakan sekali,” ucap Riana,
begitu Rindra sampai. Wajah Rindra memang terlihat kotor. Sepertinya, ada
banyak debu-debu yang menempel. Namun, Riana tidak peduli dan segera mencium
pipi Rindra, sebagai tanda penyambutan yang manis. Sebuah rutinitas, yang akan
aneh jika tidak dilakukan. Rindra pun tersenyum seperti biasa. Seperti di
hari-hari sebelumnya. Sebenarnya ia menginginkan lebih, tapi tidur tampak lebih
menggiurkan untuk saat ini.
Maka, Rindra tidur. Membiarkan Riana
sendirian, berkutat dengan entah apa, Rindra tidak begitu yakin. Ia hanya
samar-samar mendengar Riana menyanyikan lagu barat yang terkenal, tapi ia
bahkan tidak tahu apa judulnya dan setelah itu, Rindra tidak ingat apa-apa
lagi. Dua jam lebih, ia terpejam dan berenang-renang dalam lautan mimpi.
Saat terbangun, ia mendengar
televisi menampilkan sebuah berita: potongan mayat seorang gadis di dalam tas
besar berwarna hitam besar ditemukan di dekat sungai. Rindra melihat tas hitam
besar itu di layar kaca. Ia merasa tak asing. Namun, ia memilih kembali tidur.
Tambah dua jam lagi. Sampai-sampai, Riana pergi ke supermarket dan kembali
dengan barang belanjaan yang sungguh merepotkan dibawa sendirian pun, Rindra
tidak sadar.
Rindra baru benar-benar terbangun
pada pukul dua dini hari dan melihat Riana ketiduran di sofa ruang tamu, tapi
alih-alih mengambilkan selimut atau menggendongnya ke kamar, ia lebih memilih
mencuri ciuman. Di bibir Riana yang merah dan setengah terbuka. Berkali-kali,
sampai perempuan itu terbangun, merasa terganggu. Setelah itu, tanpa kata-kata,
Rindra beranjak keluar. Ia hendak membeli minuman dingin. Rindra melangkah
sembari merasa sedikit kesal ketika mengingat kulkas di rumahnya rusak dan
terlalu sulit baginya untuk mengeluarkan uang demi tukang reparasi. Ada yang
lebih penting daripada itu, selalu ada. Tapi, ia tidak tahu apa.
Dan di waktu inilah, dosa pertama
Rindra dilakukan. Ini bukan dosa kecil, bukan sembarang dosa, bukan dosa biasa.
Meskipun sebenarnya tampak biasa bagi sebagian orang, mungkin.
Di gang kecil menuju warung, hanya
ada lampu yang remang. Lampu yang seperti tak berniat untuk menyala. Di situ,
seorang gadis gemetar, ketakutan, meminta tolong. Namun, Rindra bilang, ia
tidak bisa menolong, walaupun sebenarnya bisa. Rindra hanya melihat dengan
tatapan datar saat gadis itu akhirnya ditemukan oleh pria dengan masker dan
topi, yang terlihat sangat memaksa, menyeret gadis itu masuk ke dalam mobil tak
jauh dari gang kecil tersebut. Rindra tak sengaja melihat mata si pria jahat,
dan ia segera pergi dari sana, hendak mencapai tujuannya: membeli minuman
dingin.
Orang lain juga pasti melihatnya dan
melakukan hal yang sama.
Orang lain juga akan pura-pura tidak
tahu.
Orang lain juga akan tidak peduli
dan menyelamatkan diri mereka sendiri.
Rindra kembali ke rumah dengan tiga
kaleng minuman dingin. Riana sudah bangun dan terlihat cemberut sedikit,
mungkin karena serangan ciuman beberapa saat sebelumnya. Rindra lalu
menyodorkan satu kaleng minuman yang ia beli dan Riana langsung tersenyum. Betapa
mudahnya.
“Terima kasih, Sayang.” Ciuman lain
yang wangi stroberi, didapatkan lagi oleh Rindra. Ah, itu membuatnya melayang,
membuat lelaki itu berkeinginan untuk selamanya dengan Riana. Ia ingin Riana
abadi di dalam hidupnya.
Namun, itu mustahil. Hari baru
dimulai, dan Rindra harus kembali bekerja. Ciuman manis yang panjang dan candu
saja tidak cukup untuk hidup. Maka, ia berpamitan dan berangkat kerja,
sementara Riana masih ingin berlama-lama di balik selimut. Hanya bangun sebentar
untuk mengucapkan sampai jumpa sayang, dan kembali tertidur. Sampai siang.
Rindra ke pabrik lagi. Bekerja lagi
di bawah teriakan para senior yang galak. Ia selalu bersikap bodo amat dan
Rindra semakin sadar itulah kunci hidup bahagia. Itulah yang ia yakini. Karena
sejauh ini, memang dengan banyak bersikap bodo amat dan tidak ikut campur
urusan orang lain, serta membiarkan semuanya lewat begitu saja, Rindra merasa
hidupnya lumayan membaik.
Di jam istirahat, seorang teman
menelepon Rindra. Ia bilang, ia sedang kebingungan mencari adiknya yang tidak
pulang semalam. Rindra tidak pernah dimintai bantuan atau meminta bantuan,
makanya ia merasa kesal ketika temannya terus meneriakkan ciri-ciri sang adik
dan banyak hal lainnya, termasuk dengan suara yang hampir menangis, nyaris
putus asa. Rindra hanya berkata singkat, “Aku tidak pernah melihat adikmu. Atau
orang yang ciri-cirinya kau ceritakan itu.”
Lalu telepon ditutup oleh Rindra. Ia
menghela napas sejenak, dan merasa benci. Kebencian yang aneh, semacam perasaan
yang tidak semestinya ada. Ia bahkan diam-diam berdoa semoga di hari lain, ia
tidak lagi menerima telepon dari siapa pun yang membuatnya merasa terganggu.
Itu bukan
urusanku.
Rindra kembali pulang. Kembali di
dalam kereta yang penuh. Dan lagi-lagi, ia kembali terdorong ke depan, nyaris
terantuk koper besar berwarna hitam. Ia tak sengaja melihat sepatu si pemilik
koper yang membuatnya lama tak berkedip. Berluti Sneakers Collection berwarna
putih. Sepatu yang ada di daftar keinginannya selama bertahun-tahun.
“Maaf,” kata si pemilik koper,
padahal hampir jatuhnya Rindra bukanlah salahnya.
Sepanjang setelah Rindra keluar dari
kereta dan berjalan ke rumahnya, gambaran sepatu yang sangat ia inginkan itu
terus-menerus terbayang di dalam kepala Rindra. Sampai ia membuka pintu,
mendapat ciuman penyambutan, bahkan setelah melewati malam yang menyenangkan
dan penuh gairah dengan Riana, ia tetap tidak bisa melupakan betapa bagus dan
kerennya si sepatu. Riana sudah tahu itu dari lama. Sudah tahu betapa Rindra
menginginkannya.
Pagi kembali. Rindra bekerja lagi.
Kali ini, ia mendapat kabar tak menyenangkan yang tidak ingin ia dengar
sebenarnya. Bukan karena merasa prihatin atau ngeri, tapi ia tidak suka saja.
Kabar itu tentang adik temannya yang ditemukan dalam keadaan mengenaskan dan
tak bernyawa. Ditemukan tak jauh dari gang yang cukup akrab bagi Rindra.
“Seharusnya, orang yang suka memberi
kabar buruk kepada orang lain itu dihukum. Itu merugikan sekali.”
Ketika Rindra merasa harinya cukup
buruk, ia memilih untuk menyuruh pegawai baru yang lebih baru darinya, untuk
mengerjakan bagian yang belum ia kerjakan. Rindra kadang-kadang merasa ia juga
sudah setara dengan para seniornya di tempat kerja, dan itu menyenangkan. Lebih
dari cukup untuk membuat harinya terasa sedikit lebih baik.
Sayangnya, itu hanya kesenangan yang
singkat saja. Saat ia pulang, ia jadi kesal lagi karena Riana tidak ada di
rumah. Tidak ada ciuman manis atau godaan kecil dari sang kekasih. Namun,
Rindra memilih diam dan menunggu. Ia tidak mau menelepon atau mengirim pesan.
Menantikan sesuatu yang tidak pasti itu memuakkan.
Namun, hingga malam tiba, Riana tak
kunjung kembali. Lebih buruknya lagi, Riana tak mengabari. Dan Rindra merasa ia
tak punya pilihan lain, selain tidur.
Rindra baru menyadari kalau Riana
benar-benar menghilang saat ibunya Riana datang ke rumah. “Ibu pikir dia sama
kamu terus dan lupa memberi Ibu kabar.”
Rindra sedikit cemas dan ia mulai
menghubungi beberapa teman Riana. Semuanya tidak tahu apa-apa. Kecuali wanita
penjaga warung yang katanya sempat melihat perempuan mirip Riana dibawa pergi
oleh seorang pria yang memakai masker dan topi.
“Kenapa tidak melapor? Kenapa Ibu
diam saja?” tanya Rindra yang tanpa menunggu jawaban, segera beringsut dari
situ.
Dan ya, polisi memang tidak berguna.
Jadi, Rindra bolos kerja dan mencari siapa saja pria yang memakai masker dan
topi. Ia menaiki kereta dengan jurusan yang sama berulang kali, melewati gang
yang sama puluhan kali dalam satu hari, tapi tidak juga mendapatkan hasil.
Sampai pada suatu malam, ia bermimpi
seorang gadis menjerat lehernya hingga putus. Terlalu menyeramkan sampai Rindra
terbangun dan pergi ke dapur demi mengambil air minum, tapi yang ia dapati
adalah kepala Riana yang tergantung di pintu kamar mandi. Tanpa tubuh.
Seminggu kemudian, polisi
berdatangan. Tangan Rindra gemetar. Di dekatnya, seorang pria dengan masker
hitam yang tidak ia kenal tengah mengerang kesakitan dan mulai mengalami
penurunan kesadaran. Bagaimana tidak?. Perutnya ditusuk dua belas kali. Oleh Rindra.
***
Rindra
digiring menuju sel. Wajahnya babak belur setelah sempat bersitegang dengan dua
polisi yang sempat memintanya mencopot sepatu mahal yang ia kenakan.
“Sebelum
mati, pacar saya membelikannya. Dia menyimpannya di tempat yang mudah dilihat.
Saya baru sadar dia sudah membelinya sejak lama.” (*)

0 Comments