Mimpi-Mimpi yang Melukaiku
Layla Nusayba
Iris
menaiki bus malam yang melaju dengan tenang. Kursi-kursinya hampir penuh,
tetapi tidak ada penumpang yang berbicara. Ia menyandarkan kepalanya pada kaca
dengan baret sebagai bantalan, sambil memegangi perutnya yang terasa kosong.
Sesuatu yang berdetak di dalamnya telah dikeluarkan dua minggu lalu. Matanya
sedikit berat karena kurang tidur. Pikirannya berputar pada pekerjaannya malam
ini.
Ketika
bus menurunkan penumpang di halte dekat gedung yang masih kosong dan belum lama
berdiri, ia menegakkan duduknya. Matanya menatap nanar gedung berlantai dua
puluh itu. Ia meremas jemarinya yang terasa dingin. Napasnya memburu.
Ingatan
itu datang tiba-tiba. Jason pernah menyambutnya di lobi gedung itu dengan kedua
tangan terentang. Lantainya mengilap. Langit-langitnya dipasang panel kaca
tinggi, memantulkan sinar matahari hingga ruangan terasa terang dan panas.
“Lihat,”
katanya sambil mengamati sekeliling. “Proyek pertamaku berhasil.”
Jason
berbicara seperti anak kecil yang telah berhasil menyusun menara balok tanpa
terjatuh. Suaranya yang terlalu keras membuat beberapa pekerja yang sedang
mengecat menoleh, tetapi ia tak peduli.
Iris
mendekat, menggenggam tangan Jason yang hangat. “Aku turut bangga.”
Mereka
berkeliling gedung yang belum resmi dibuka itu, memasuki lift dan berhenti
dengan sedikit getaran di lantai lima belas. Bau cat ruangan masih segar.
Sebagian kabel masih menggantung di langit-langit yang sebagian belum tertutup
plafon. Di dekat pintu, ada bahan yang mudah memicu ledakan. Sementara hidran
dan dan sistem kebakaran gedung belum seratus persen berfungsi. Lantai marmer
keabuan kotor memantulkan bayangan mereka yang berdiri berdampingan. Ketika
Iris lebih mendekat sambil menatap wajah Jason, bayangannya seolah sedang
mencium lelaki itu. Iris tersipu.
Iris
mendekati jendela besar yang belum dipasang tirai. Dari sana terlihat jalanan
dan atap-atap rumah. Dibayangkannya salah satu rumah itu menjadi tempat tinggal
ia dan Jason setelah mereka menikah nanti.
Iris
berbalik, memperhatikan Jason yang tengah memeriksa panel kontrol di dinding.
Lelaki itu pernah beberapa kali mengajarinya tentang sistem kontrol sebuah
gedung yang cukup rumit.
Jemari
Jason bergerak cekatan di antara tombol dan kabel-kabel kecil. Ia tahu persis
apa yang disentuhnya. Iris menelan ludah saat teringat jemari di tombol itu
menjelajahi tubuhnya dengan napas memburu.
“Jason,”
panggilnya dengan suara sedikit ragu.”
“Hmm.”
Mata lelaki itu tetap fokus pada panel.
“Kita
akan menikah setelah proyek ini selesai, kan?”
Jason
menoleh, menatapnya dengan kening berkerut, seolah-olah sedang berpikir keras.
“Tapi aku belum siap menikah.”
Iris
membelalak. “Kau tak ingin hidup bersamaku?”
“Bukan
begitu. Aku masih ingin mengejar semua mimpiku. Kau pasti paham.”
Sejak
awal Jason selalu punya waktu untuk impiannya. Tetapi untuk Iris, selalu saja
ada alasan. Janji tentang pernikahan itu beberapa kali diucapkan, tetapi selalu
digeser ke setelah ini dan setelah itu.
Sel-sel
di tubuhnya seolah-olah disusun dari ambisi belaka. Jika ada dua pilihan antara
jalan lambat tetapi aman atau jalan cepat, ia akan memilih yang cepat. Entah
itu buruk atau baik.
Suatu
hari mereka memesan makanan di kedai yang antreannya cukup panjang. Iris sudah
siap menunggu, tetapi Jason tidak. Ia memotong antrean dan memesan lebih dulu.
Ketika seseorang memprotes, ia hanya menoleh sebentar. Tubuhnya yang besar
membuat orang itu terdiam.
Keheningan
itu pecah oleh helaan napas panjang Iris. Sambil mengepalkan tangan dan menahan
gejolak di dada, ia meninggalkan gedung. Ia berharap Jason akan menghentikan
langkahnya, lalu meminta maaf. Namun, harapannya sia-sia. Jason diam saja
sambil memandangi kepergiannya.
Dua hari
setelahnya tak ada kabar dari lelaki itu. Pesan dan teleponnya tidak dijawab.
Iris mondar-mandir di kamarnya sambil memegang ponsel. Rambutnya acak-acakan.
Matanya sembap. Tisu bekas berhamburan.
“Tidak.
Tidak. Ia hanya sedang sibuk,” racaunya.
Keadaan
itu berlanjut hingga seminggu kemudian. Jason seolah menarik diri begitu saja
dari kehidupan Iris. Perempuan itu berusaha melupakan Jason meskipun sulit. Ia
menjadi sering melamun dan tidak fokus pada pekerjaannya. Ia bahkan sampai
mendapat teguran dari atasan.
“Pekerjaanmu
menyangkut keselamatan orang. Kau tidak bisa seenaknya.”
Ia makin
tertekan ketika mendapati perubahan pada dirinya: terlambat haid, sering mual,
muntah, dan tubuhnya terasa lemas. Di kamar mandi, tangannya gemetar memegang
alat tes kehamilan dengan dua garis vertikal.
Nahasnya
lagi, ketika ia mendatangi apartemen Jason, lelaki itu sedang sibuk bercumbu
dengan perempuan lain di sofa tanpa mengunci pintu. Sebagian pakaian mereka
berserakan di lantai. Desah perempuan itu terdengar menjijikan.
“Brengsek
kau, Jason!” Iris menendang pintu. Ia lantas mengambil asbak dan membantingnya
ke arah meja hingga pecah berhamburan.
Jason
yang terkejut langsung menyuruh perempuan yang bercumbu dengannya bergegas
pergi. Setelah perempuan itu pergi melewati Iris dengan kesal, Jason mencoba
menenangkan Iris.
“Tenang
katamu? Aku hamil!” Iris kembali membanting benda-benda yang dapat dijangkau
tangannya. “Kau harus menikahiku.”
“Aku
belum siap menikahimu dan belum ingin memiliki anak!” Kata itu meluncur begitu
saja dari mulu Jason.
Ucapan
Jason sontak membuat napas Iris sesak, seakan udara di sekitarnya menipis. Ia
melayangkan tamparan di pipi Jason, membalik badan, lantas meninggalkan
apartemen.
Jason
mengumpat, “Sialan!”
Kesadaran
Iris kembali ketika bus berhenti di depan kantornya. Ia lekas mengusap air mata
di pipinya yang kemerahan. “Apakah yang kulakukan sudah benar?”
Angin
malam menyusup ke pori-pori saat ia menuruni bus. Iris mendesah. Malam ini akan
terasa panjang, pikirnya.
Ia
berjalan cepat memasuki kantor, menuju lift dan menekan tombol lantai tiga.
Keluar dari lift, langkahnya berbelok ke arah toilet.
Lampu
neon memantul pucat di cermin. Wajahnya terlihat lebih tua dari usianya. Ia
membuka tas kecilnya dan mengeluarkan sesuatu yang terbungkus tisu. Alat tes
kehamilan itu masih disimpannya. Dua garis itu sudah memudar, tetapi masih
terlihat. Ia menatapnya lama.
Iris
memejamkan mata. Bayangan Jason yang mencumbu perempuan lain menari-nari di
kepalanya. Lelaki itu bahkan tidak mengejarnya ketika ia meninggalkan
apartemen. Iris membuka mata, membuat alat tes yang diremasnya itu ke tempat
sampah.
“Aku tak
bisa membatalkannya,” gumamnya.
Setelah
membasahi wajah, ia memasuki ruang kerjanya yang dingin. Meja membentuk
lingkaran dan kabel memenuhi ruangan. Sebagian operator yang sudah berganti sif
duduk tegak di kursinya. Beberapa headset di telinga mereka berkedip merah.
Setelah
mengenakan jaket yang dikeluarkannya dari laci bawah meja, Iris duduk di
hadapan komputer yang terus menyala. Tangannya yang gemetar memasang headset,
memastikan busanya menutup telinga dengan rapat. Ia tidak langsung bekerja.
Matanya menatap tombol abu-abu bertuliskan ‘AVAILABLE’ di sudut layar. Setelah
sempat ragu, ia menekan tombol itu hingga berubah menjadi hijau menyala.
Beberapa menit kemudian, bunyi ‘beep’ tajam menghantam gendang telinganya.
“911. Ada
yang bisa dibantu?” tanya Iris sesuai prosedur. Senyum tipis tersungging di
bibirnya.
“Ada
penjambretan. Korbannya tertusuk di bagian perut.” Suara si penelepon bergetar.
“Tenang,
Bu. Saya bersama Anda. Di mana lokasi tepatnya?”
Iris
menghela napas setelah panggilan darurat itu usai. Ia meletakkan pena di atas
buku catatan, lalu meraih tumbler di ujung meja. Ia buru-buru meneguknya
sebelum panggilan darurat lain masuk.
Bunyi
‘beep’ menghantam telinganya lagi. Garis hidup seseorang baru saja mendarat
kembali di mejanya.
“911. Ada
yang bisa dibantu?”
“Kebakaran!
Saya terjebak. Tolong, apinya menyebar cepat.” Si penelepon terbatuk.
Mendengar
suara yang amat ia kenali, jantung Iris seperti berhenti sesaat. Ia tahu
kemungkinan ini bisa ada. Tetapi, mendengarnya langsung membuat lututnya
melemas.
“Jason,
apa yang terjadi?”
“Iris?
Iris Tolong aku. Aku terjebak di lantai 15, di gedung yang sedang kukerjakan.”
Jason menyeret kursi dengan susah payah, tetapi berhenti. Napasnya sesak.
“Jason,
dengarkan aku. Jangan pecahkan kaca jendela. Api akan makin menyebar ke
mana-mana.” Suara Iris kembali terdengar dengan nada profesional yang dingin.
Iris
memejamkan mata sejenak, mematikan fungsi monitor-out agar Jason tidak
mendengar deru napasnya yang mulai kacau. Kakinya segera menekan panel di
dekatnya. Jemarinya gemetar di atas keyboard. Namun, protokol yang tertanam di
otaknya memaksa tangannya tetap mengetik dengan cepat: gedung baru di jalan
Central terbakar, ada orang yang terjebak di lantai lima belas.
“Jason!
Kau masih di sana? Bantuan akan segera datang,” lanjut Iris. “Tutup hidungmu
dengan kain atau apa saja. Merangkak ke lantai, sekarang!”
Sebagai
operator, ia terlatih untuk menenangkan orang dan menjaga mereka tetap hidup
sampai bantuan datang. Tetapi sebagai perempuan yang ditinggalkan, ia ingin
Jason merasakan ketakutan yang pernah ia rasakan di meja aborsi. Dua perasaan
itu saling tarik menarik.
Di layar
monitornya, titik GPS berkedip di sebuah area konstruksi yang belum terdaftar.
Di telinga Iris, suara api melahap kaca dan benda-benda plastik terdengar
seperti deru ombak yang ganas. Ia teringat sesuatu yang membuatnya membelalak.
Jason punya penyakit asma. Paparan asap hitam pekat dari benda yang terbakar di
sana menutup bronkiolusnya dalam hitungan menit, jauh sebelum api menyambar
kulitnya.
“A-aku
akan memecahkan kaca jendela.” Suara Jason pecah oleh batuk yang berat.
Napasnya makin sesak. Ia sudah tersudut.
“Jangan
lakukan itu, Jason! Tenang.”
Dengan
kaki masih menekan panel, suara Iris meledak di frekuensi radio petugas pemadam
kebakaran. “Unit Gajah 5! Korban di lantai lima belas memiliki riwayat sesak
napas! Percepat evakuasi! Ganti!”
Kembali
ke jalur telepon, Iris berbisik, “Jason, jangan matikan telepon. Cari benda
keras, pukul apa saja agar petugas tahu posisimu. Tetapi jangan pecahkan kaca.”
“A-aku
sulit napas. Maafkan aku soal—”
“Simpan
tenagamu, Jason! Fokus!” teriak Iris. Air mata mulai jatuh membasahi pipinya.
Gemetar di tangannya tak juga reda. Namun, matanya tetap terpaku pada durasi
panggilan di layar: 04:42.
Tiba-tiba
sebuah dentuman keras bergema melalui lubang suara headset. Suara kaca pecah
disusul gemuruh material berat yang runtuh.
“Jason!
Kau masih di sana? Kenapa kau pecahkan kaca?”
Di ujung
sana, bukan lagi suara batuk Jason yang terdengar, melainkan suara gesekan
beton masif yang jatuh menghantam lantai, diikuti suara sisa-sisa napas yang
tercekik secara instan. Api makin menjalar tertiup angin. Plafon gedung yang
belum selesai dipasang menyerah pada bara yang meraja, meruntuhkan
material-material tepat di atas tubuh Jason.
Sesaat
setelah ledakan itu hanya ada kesunyian yang mengerikan. Status di layar
monitor Iris berubah dari aktif menjadi terputus. Desis datar menggantikan
suara Jason. Garis gelombang suara di layarnya mendatar, menjadi garis lurus
yang mati.
Iris
mematung. Tangannya masih menggantung di atas keyboard. Ia teringat bagaimana
Jason selalu benci ruangan yang pengap, dan kini, lelaki itu terkubur dalam
reruntuhan beton dari gedung yang dibangunnya.
Lampu
indikator di headset-nya kembali berubah dari merah menjadi hijau. Sif belum
berakhir. Dengan cekatan, tangannya meraih pena dan buku di sisi kanan
komputer, lalu menulis catatan panggilan.
Sepuluh
menit kemudian, bunyi ‘beep’ yang kejam kembali menghantam telinganya.
“911. Ada
yang bisa dibantu?” Suara Iris terdengar kering. Namun, ia tak bisa
menyembunyikan senyum tipis di bibirnya.
Langkah
Iris yang sebelumnya terasa berat mendadak ringan begitu keluar dari lobi
kantor. Sinar matahari pagi menghangatkan wajahnya. Ia menarik napas
dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan, seolah baru saja keluar dari ruangan
sempit.
Ia
mengusap perutnya, lalu memandangi jemarinya. Tangan itulah yang kemarin sore
mengutak-atik panel kontrol sebuah gedung, dengan gerakan yang tenang dan
waspada. Ia tahu betul apa yang harus dilakukannya. Ia mengingat suara dengung
listrik itu, pendek lalu sunyi. Sebelum meninggalkan gedung itu, ia menyambar
baret berdebu dari kursi.
Ketika
bus yang ia tumpangi melewati jalan Central, suara sirene ambulance dan pemadam
kebakaran meraung. Jalanan tersendat. Asap masih membumbung. Orang-orang
berkerumun.
Iris
menunduk, menyentuh perutnya lagi, lebih lama kali ini. Ia menyesal telah
menghilangkan sesuatu yang berdetak di dalamnya. Tanpa sadar, ia menangis.
“Aku
belum siap menjadi ayah.” Ucapan Jason berdengung di telinganya.
Balas
dendam ternyata tidak terasa seperti kemenangan. Ia hanya merasa ringan dan
kosong, seperti ruangan yang baru dibentuk.

0 Comments