Mimpi-Mimpi yang Melukaiku - Layla Nusayba

Juara 3 - Love in Sadness S3


Mimpi-Mimpi yang Melukaiku
Layla Nusayba

 

Iris menaiki bus malam yang melaju dengan tenang. Kursi-kursinya hampir penuh, tetapi tidak ada penumpang yang berbicara. Ia menyandarkan kepalanya pada kaca dengan baret sebagai bantalan, sambil memegangi perutnya yang terasa kosong. Sesuatu yang berdetak di dalamnya telah dikeluarkan dua minggu lalu. Matanya sedikit berat karena kurang tidur. Pikirannya berputar pada pekerjaannya malam ini.

 

Ketika bus menurunkan penumpang di halte dekat gedung yang masih kosong dan belum lama berdiri, ia menegakkan duduknya. Matanya menatap nanar gedung berlantai dua puluh itu. Ia meremas jemarinya yang terasa dingin. Napasnya memburu.

 

Ingatan itu datang tiba-tiba. Jason pernah menyambutnya di lobi gedung itu dengan kedua tangan terentang. Lantainya mengilap. Langit-langitnya dipasang panel kaca tinggi, memantulkan sinar matahari hingga ruangan terasa terang dan panas.

 

“Lihat,” katanya sambil mengamati sekeliling. “Proyek pertamaku berhasil.”

 

Jason berbicara seperti anak kecil yang telah berhasil menyusun menara balok tanpa terjatuh. Suaranya yang terlalu keras membuat beberapa pekerja yang sedang mengecat menoleh, tetapi ia tak peduli.

 

Iris mendekat, menggenggam tangan Jason yang hangat. “Aku turut bangga.”

 

Mereka berkeliling gedung yang belum resmi dibuka itu, memasuki lift dan berhenti dengan sedikit getaran di lantai lima belas. Bau cat ruangan masih segar. Sebagian kabel masih menggantung di langit-langit yang sebagian belum tertutup plafon. Di dekat pintu, ada bahan yang mudah memicu ledakan. Sementara hidran dan dan sistem kebakaran gedung belum seratus persen berfungsi. Lantai marmer keabuan kotor memantulkan bayangan mereka yang berdiri berdampingan. Ketika Iris lebih mendekat sambil menatap wajah Jason, bayangannya seolah sedang mencium lelaki itu. Iris tersipu.

 

Iris mendekati jendela besar yang belum dipasang tirai. Dari sana terlihat jalanan dan atap-atap rumah. Dibayangkannya salah satu rumah itu menjadi tempat tinggal ia dan Jason setelah mereka menikah nanti.

 

Iris berbalik, memperhatikan Jason yang tengah memeriksa panel kontrol di dinding. Lelaki itu pernah beberapa kali mengajarinya tentang sistem kontrol sebuah gedung yang cukup rumit.

 

Jemari Jason bergerak cekatan di antara tombol dan kabel-kabel kecil. Ia tahu persis apa yang disentuhnya. Iris menelan ludah saat teringat jemari di tombol itu menjelajahi tubuhnya dengan napas memburu.

 

“Jason,” panggilnya dengan suara sedikit ragu.”

 

“Hmm.” Mata lelaki itu tetap fokus pada panel.

 

“Kita akan menikah setelah proyek ini selesai, kan?”

 

Jason menoleh, menatapnya dengan kening berkerut, seolah-olah sedang berpikir keras. “Tapi aku belum siap menikah.”

 

Iris membelalak. “Kau tak ingin hidup bersamaku?”

 

“Bukan begitu. Aku masih ingin mengejar semua mimpiku. Kau pasti paham.”

 

Sejak awal Jason selalu punya waktu untuk impiannya. Tetapi untuk Iris, selalu saja ada alasan. Janji tentang pernikahan itu beberapa kali diucapkan, tetapi selalu digeser ke setelah ini dan setelah itu.

 

Sel-sel di tubuhnya seolah-olah disusun dari ambisi belaka. Jika ada dua pilihan antara jalan lambat tetapi aman atau jalan cepat, ia akan memilih yang cepat. Entah itu buruk atau baik.

 

Suatu hari mereka memesan makanan di kedai yang antreannya cukup panjang. Iris sudah siap menunggu, tetapi Jason tidak. Ia memotong antrean dan memesan lebih dulu. Ketika seseorang memprotes, ia hanya menoleh sebentar. Tubuhnya yang besar membuat orang itu terdiam.

 

Keheningan itu pecah oleh helaan napas panjang Iris. Sambil mengepalkan tangan dan menahan gejolak di dada, ia meninggalkan gedung. Ia berharap Jason akan menghentikan langkahnya, lalu meminta maaf. Namun, harapannya sia-sia. Jason diam saja sambil memandangi kepergiannya.

 

Dua hari setelahnya tak ada kabar dari lelaki itu. Pesan dan teleponnya tidak dijawab. Iris mondar-mandir di kamarnya sambil memegang ponsel. Rambutnya acak-acakan. Matanya sembap. Tisu bekas berhamburan.

 

“Tidak. Tidak. Ia hanya sedang sibuk,” racaunya.

 

Keadaan itu berlanjut hingga seminggu kemudian. Jason seolah menarik diri begitu saja dari kehidupan Iris. Perempuan itu berusaha melupakan Jason meskipun sulit. Ia menjadi sering melamun dan tidak fokus pada pekerjaannya. Ia bahkan sampai mendapat teguran dari atasan.

 

“Pekerjaanmu menyangkut keselamatan orang. Kau tidak bisa seenaknya.”

 

Ia makin tertekan ketika mendapati perubahan pada dirinya: terlambat haid, sering mual, muntah, dan tubuhnya terasa lemas. Di kamar mandi, tangannya gemetar memegang alat tes kehamilan dengan dua garis vertikal.

 

Nahasnya lagi, ketika ia mendatangi apartemen Jason, lelaki itu sedang sibuk bercumbu dengan perempuan lain di sofa tanpa mengunci pintu. Sebagian pakaian mereka berserakan di lantai. Desah perempuan itu terdengar menjijikan.

 

“Brengsek kau, Jason!” Iris menendang pintu. Ia lantas mengambil asbak dan membantingnya ke arah meja hingga pecah berhamburan.

 

Jason yang terkejut langsung menyuruh perempuan yang bercumbu dengannya bergegas pergi. Setelah perempuan itu pergi melewati Iris dengan kesal, Jason mencoba menenangkan Iris.

 

“Tenang katamu? Aku hamil!” Iris kembali membanting benda-benda yang dapat dijangkau tangannya. “Kau harus menikahiku.”

 

“Aku belum siap menikahimu dan belum ingin memiliki anak!” Kata itu meluncur begitu saja dari mulu Jason.

 

Ucapan Jason sontak membuat napas Iris sesak, seakan udara di sekitarnya menipis. Ia melayangkan tamparan di pipi Jason, membalik badan, lantas meninggalkan apartemen.

 

Jason mengumpat, “Sialan!”

 

Kesadaran Iris kembali ketika bus berhenti di depan kantornya. Ia lekas mengusap air mata di pipinya yang kemerahan. “Apakah yang kulakukan sudah benar?”

 

Angin malam menyusup ke pori-pori saat ia menuruni bus. Iris mendesah. Malam ini akan terasa panjang, pikirnya.

 

Ia berjalan cepat memasuki kantor, menuju lift dan menekan tombol lantai tiga. Keluar dari lift, langkahnya berbelok ke arah toilet.

 

Lampu neon memantul pucat di cermin. Wajahnya terlihat lebih tua dari usianya. Ia membuka tas kecilnya dan mengeluarkan sesuatu yang terbungkus tisu. Alat tes kehamilan itu masih disimpannya. Dua garis itu sudah memudar, tetapi masih terlihat. Ia menatapnya lama.

 

Iris memejamkan mata. Bayangan Jason yang mencumbu perempuan lain menari-nari di kepalanya. Lelaki itu bahkan tidak mengejarnya ketika ia meninggalkan apartemen. Iris membuka mata, membuat alat tes yang diremasnya itu ke tempat sampah.

 

“Aku tak bisa membatalkannya,” gumamnya.

 

Setelah membasahi wajah, ia memasuki ruang kerjanya yang dingin. Meja membentuk lingkaran dan kabel memenuhi ruangan. Sebagian operator yang sudah berganti sif duduk tegak di kursinya. Beberapa headset di telinga mereka berkedip merah.

 

Setelah mengenakan jaket yang dikeluarkannya dari laci bawah meja, Iris duduk di hadapan komputer yang terus menyala. Tangannya yang gemetar memasang headset, memastikan busanya menutup telinga dengan rapat. Ia tidak langsung bekerja. Matanya menatap tombol abu-abu bertuliskan ‘AVAILABLE’ di sudut layar. Setelah sempat ragu, ia menekan tombol itu hingga berubah menjadi hijau menyala. Beberapa menit kemudian, bunyi ‘beep’ tajam menghantam gendang telinganya.

 

“911. Ada yang bisa dibantu?” tanya Iris sesuai prosedur. Senyum tipis tersungging di bibirnya.

 

“Ada penjambretan. Korbannya tertusuk di bagian perut.” Suara si penelepon bergetar.

 

“Tenang, Bu. Saya bersama Anda. Di mana lokasi tepatnya?”

 

Iris menghela napas setelah panggilan darurat itu usai. Ia meletakkan pena di atas buku catatan, lalu meraih tumbler di ujung meja. Ia buru-buru meneguknya sebelum panggilan darurat lain masuk.

 

Bunyi ‘beep’ menghantam telinganya lagi. Garis hidup seseorang baru saja mendarat kembali di mejanya.

 

“911. Ada yang bisa dibantu?”

 

“Kebakaran! Saya terjebak. Tolong, apinya menyebar cepat.” Si penelepon terbatuk.

 

Mendengar suara yang amat ia kenali, jantung Iris seperti berhenti sesaat. Ia tahu kemungkinan ini bisa ada. Tetapi, mendengarnya langsung membuat lututnya melemas.

 

“Jason, apa yang terjadi?”

 

“Iris? Iris Tolong aku. Aku terjebak di lantai 15, di gedung yang sedang kukerjakan.” Jason menyeret kursi dengan susah payah, tetapi berhenti. Napasnya sesak.

 

“Jason, dengarkan aku. Jangan pecahkan kaca jendela. Api akan makin menyebar ke mana-mana.” Suara Iris kembali terdengar dengan nada profesional yang dingin.

 

Iris memejamkan mata sejenak, mematikan fungsi monitor-out agar Jason tidak mendengar deru napasnya yang mulai kacau. Kakinya segera menekan panel di dekatnya. Jemarinya gemetar di atas keyboard. Namun, protokol yang tertanam di otaknya memaksa tangannya tetap mengetik dengan cepat: gedung baru di jalan Central terbakar, ada orang yang terjebak di lantai lima belas.

 

“Jason! Kau masih di sana? Bantuan akan segera datang,” lanjut Iris. “Tutup hidungmu dengan kain atau apa saja. Merangkak ke lantai, sekarang!”

 

Sebagai operator, ia terlatih untuk menenangkan orang dan menjaga mereka tetap hidup sampai bantuan datang. Tetapi sebagai perempuan yang ditinggalkan, ia ingin Jason merasakan ketakutan yang pernah ia rasakan di meja aborsi. Dua perasaan itu saling tarik menarik.

 

Di layar monitornya, titik GPS berkedip di sebuah area konstruksi yang belum terdaftar. Di telinga Iris, suara api melahap kaca dan benda-benda plastik terdengar seperti deru ombak yang ganas. Ia teringat sesuatu yang membuatnya membelalak. Jason punya penyakit asma. Paparan asap hitam pekat dari benda yang terbakar di sana menutup bronkiolusnya dalam hitungan menit, jauh sebelum api menyambar kulitnya.

 

“A-aku akan memecahkan kaca jendela.” Suara Jason pecah oleh batuk yang berat. Napasnya makin sesak. Ia sudah tersudut.

 

“Jangan lakukan itu, Jason! Tenang.”

 

Dengan kaki masih menekan panel, suara Iris meledak di frekuensi radio petugas pemadam kebakaran. “Unit Gajah 5! Korban di lantai lima belas memiliki riwayat sesak napas! Percepat evakuasi! Ganti!”

 

Kembali ke jalur telepon, Iris berbisik, “Jason, jangan matikan telepon. Cari benda keras, pukul apa saja agar petugas tahu posisimu. Tetapi jangan pecahkan kaca.”

 

“A-aku sulit napas. Maafkan aku soal—”

 

“Simpan tenagamu, Jason! Fokus!” teriak Iris. Air mata mulai jatuh membasahi pipinya. Gemetar di tangannya tak juga reda. Namun, matanya tetap terpaku pada durasi panggilan di layar: 04:42.

 

Tiba-tiba sebuah dentuman keras bergema melalui lubang suara headset. Suara kaca pecah disusul gemuruh material berat yang runtuh.

 

“Jason! Kau masih di sana? Kenapa kau pecahkan kaca?”

 

Di ujung sana, bukan lagi suara batuk Jason yang terdengar, melainkan suara gesekan beton masif yang jatuh menghantam lantai, diikuti suara sisa-sisa napas yang tercekik secara instan. Api makin menjalar tertiup angin. Plafon gedung yang belum selesai dipasang menyerah pada bara yang meraja, meruntuhkan material-material tepat di atas tubuh Jason.

 

Sesaat setelah ledakan itu hanya ada kesunyian yang mengerikan. Status di layar monitor Iris berubah dari aktif menjadi terputus. Desis datar menggantikan suara Jason. Garis gelombang suara di layarnya mendatar, menjadi garis lurus yang mati.

 

Iris mematung. Tangannya masih menggantung di atas keyboard. Ia teringat bagaimana Jason selalu benci ruangan yang pengap, dan kini, lelaki itu terkubur dalam reruntuhan beton dari gedung yang dibangunnya.

 

Lampu indikator di headset-nya kembali berubah dari merah menjadi hijau. Sif belum berakhir. Dengan cekatan, tangannya meraih pena dan buku di sisi kanan komputer, lalu menulis catatan panggilan.

 

Sepuluh menit kemudian, bunyi ‘beep’ yang kejam kembali menghantam telinganya.

 

“911. Ada yang bisa dibantu?” Suara Iris terdengar kering. Namun, ia tak bisa menyembunyikan senyum tipis di bibirnya.

 

 

Langkah Iris yang sebelumnya terasa berat mendadak ringan begitu keluar dari lobi kantor. Sinar matahari pagi menghangatkan wajahnya. Ia menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan, seolah baru saja keluar dari ruangan sempit.

 

Ia mengusap perutnya, lalu memandangi jemarinya. Tangan itulah yang kemarin sore mengutak-atik panel kontrol sebuah gedung, dengan gerakan yang tenang dan waspada. Ia tahu betul apa yang harus dilakukannya. Ia mengingat suara dengung listrik itu, pendek lalu sunyi. Sebelum meninggalkan gedung itu, ia menyambar baret berdebu dari kursi.

 

Ketika bus yang ia tumpangi melewati jalan Central, suara sirene ambulance dan pemadam kebakaran meraung. Jalanan tersendat. Asap masih membumbung. Orang-orang berkerumun.

 

Iris menunduk, menyentuh perutnya lagi, lebih lama kali ini. Ia menyesal telah menghilangkan sesuatu yang berdetak di dalamnya. Tanpa sadar, ia menangis.

 

“Aku belum siap menjadi ayah.” Ucapan Jason berdengung di telinganya.

 

Balas dendam ternyata tidak terasa seperti kemenangan. Ia hanya merasa ringan dan kosong, seperti ruangan yang baru dibentuk.

 

Post a Comment

0 Comments