Juara 2 - Love in Sadness S3
Retakan Naya
Mika Oksana
Terasa lembut kecupan di kening.
Saat membuka mata, aku mendapati diriku berada di sebuah ruangan serba putih
beraroma bunga lily. Hal yang lebih mengejutkan, seorang pria serta-merta memelukku
erat-erat seperti bocah yang sempat terpisah dengan sang ibu di ramainya taman
hiburan. Lirih, terdengar dia mengucap syukur karena akhirnya aku bangun juga.
Dia siapa?
Pria yang mengaku bernama Kevin
itu tampaknya cukup peka. Dia melepas hangat pelukan sebelum aku sempat
mendorongnya, lantas meminta seorang dokter memeriksa kondisiku.
Setelah menjalani serangkaian
pemeriksaan, aku dinyatakan amnesia. Aku tak ingat kejadian selama tiga tahun
belakangan, tak terkecuali saat kecelakaan.
Meski tahu bahwa aku tak
mengingat siapa dirinya, Kevin berkunjung setiap hari. Dia sangat sabar
menghadapiku yang sempat mengamuk, mencoba mencabut infus, dan terkadang sangat
gelisah karena kebingungan. Dia juga yang mengurus segala keperluanku; mulai dari
baju ganti, peralatan mandi, hingga membawakan barang pribadi yang barangkali
bisa memantik memori. Kevin bukan Tuhan yang bisa mengembalikan ingatan, tapi
dia berjanji akan memastikan diriku tetap aman. Bagiku, itu cukup menenangkan.
Tentang yang terjadi tiga tahun
belakangan, tak banyak yang dia bagi. Satu-satunya keluargaku, Kak Nia,
meninggal dunia beberapa bulan yang lalu setelah habis-habisan berperan melawan
leukimia.
Saudara ataupun teman tak ada
yang berkunjung ke sini karena kondisiku dirahasiakan. Jika ada yang tahu dan
informasi ini terendus media, dikhawatirkan saham perusahaan akan anjlok.
Hal yang perlu digarisbawahi,
Kevin adalah satu-satunya orang yang bisa kuandalkan. Kami sepasang suami istri
yang telah menikah selama lebih dari dua tahun. Sebagai bukti yang telah
dijanjikan beberapa hari yang lalu, Kevin menunjukkan sepasang buku nikah dan
sebuah kotak beludru. Dia membuka kotak merah itu, lantas memakaikan sebuah
cincin berhias permata ke jari manisku.
Aku merasakan dahiku mengernyit.
Kevin bukan tipe lelaki yang akan kukencani, apa lagi dijadikan suami. Dia
tampan, tapi berkulit sawo matang, bermata bulat, dan tak punya lesung pipi.
Apa kami menikah karena sebuah perjodohan?
Merasa janggal, aku mengamati
Kevin. Dia tampak terlalu sempurna untuk sebuah kesalahan dan itu mencurigakan,
seperti ada hal besar yang disembunyikan.
***
Satu bulan kemudian, aku pulang
ke sebuah rumah mungil di kaki gunung. Kata Kevin, itu rumah yang sengaja
dibeli untuk ditempati bersamaku selama masa pemulihan; bisa lebih lama jika
aku bersedia. Letaknya tak begitu jauh dari rumah sakit, hanya memakan waktu
satu setengah jam perjalanan.
Rumah mungil itu memiliki halaman
yang cukup luas; dipercantik rumput hijau yang membentang bak permadani,
batu-batu besar yang terkesan diletakkan asal di beberapa tempat, dan bunga
butter daisy yang seolah-olah tersenyum menyambut kedatangan kami. Hal terbaik,
udaranya bersih dan sejuk.
Aku terkesan dengan segala yang
Kevin lakukan. Dia pria berhati hangat yang tak pernah kasar dalam kata maupun
sikap. Dia memperlakukanku layaknya ratu. Semua pinta bersambut iya; salah
satunya rumah di hadapan kami yang dia klaim bergaya Japandi. Semua kecuali
satu: pergi dari rumah tanpa dia di sampingku.
***
Enam bulan berlalu begitu cepat
bagai angin lewat. Kabar baiknya—setelah memperbaiki kesalahan kecil dalam
pemilihan warna, pencahayaan, dan dekorasi yang merusak nuansa hangat—aku mulai
terbiasa dengan rumah ini. Kabar buruknya, ingatanku belum juga kembali.
Aku penasaran dengan masa lalu
kami, tapi tak masalah jika akhirnya tak mampu mengingatnya. Selama ada Kevin
di hidupku, semua akan baik-baik saja.
Semua tampak sempurna sampai
Kevin menyebut nama Shinta dalam tidurnya. Dari ucapan dan nada bicara, dia
tampak sangat merindukannya. Apakah itu alasan Kevin tak pernah menyentuhku
lebih dari genggaman tangan dan pelukan?
Sebelum tidur, Kevin selalu
menanyakan apakah aku sudah mencintainya. Mungkinkah itu hanya pura-pura?
Ataukah dia merindukan Shinta karena kecewa padaku yang selalu menjawab
pertanyaan itu dengan gelengan kepala?
"Belum tidur?" tanya
Kevin dengan suara serak. Dia mengucek mata sambil menguap lebar. “Boleh aku
tanya sesuatu?"
Dia mengangguk pelan.
Aku mengubah posisi dari miring
menjadi terlentang, tak sanggup menatap matanya. "Siapa Shinta?"
"Bagian dari masa laluku."
Hening sejenak.
"Dia sudah tiada,” imbuhnya.
"Apa … kau masih
mencintainya?"
Sedetik, dua detik, lima detik
berlalu hingga terdengar dengkuran halus. Mata Kevin kembali terpejam dan
lagi-lagi nama wanita itu disebut; kali ini disertai bulir bening yang luruh
dari sudut matanya.
Aku tahu, orang yang sudah tiada
tak akan bisa merebut suami siapa pun. Hanya saja, semakin sering mendengar
Kevin menyebut nama Shinta, semakin aku merasa terasing dari hatinya.
Apakah aku sedang merasa cemburu? Pada orang yang
sudah meninggal? Menyedihkan.
****
Paginya, sepeninggal Kevin yang
buru-buru ke kantor karena ada meeting penting, seseorang bertamu. Pria
berpakaian serba hitam itu mirip Kevin, bedanya dia berkulit lebih terang dan
memiliki lesung pipi.
Tepat setelah pintu terbuka, dia
langsung mencengkeram tanganku dan menarik ke luar. Dia mengaku sebagai suamiku
dan mengajak pergi dari rumah ini, segera sebelum seseorang melihat kami.
Panik, aku menghempaskan
tangannya dan segera menutup pintu. Cepat-cepat, aku menelepon satpam supaya
pria itu segera diamankan.
Sejam setelah kejadian itu, Kevin
pulang. Dia membuatkan secangkir cokelat panas dan menjawab setiap pertanyaan
yang keluar dari mulutku.
Kata Kevin, pria itu adalah
Levin, saudara kembarnya yang selalu iri dan terobsesi pada hal yang dia
miliki. Bagi Levin, milik Kevin adalah miliknya juga. Maka dari itu, Kevin
memutuskan untuk tinggal di sini supaya aku aman. Tak disangka, Levin secepat itu
melacak keberadaan kami. Kevin pun memperingatkan supaya aku hati-hati terhadap
saudara kembarnya itu karena dia orang yang kasar dan nekat.
"Bagaimana dengan Shinta?
Apa dia mengenal Levin?" tanyaku di malam hari sebelum tidur.
Kevin menguap lebar. "Cukup
untuk hari ini. Selamat malam, Naya. I love you."
Aku menatap Kevin dengan
kebingungan yang menyesakkan. Ini pertama kalinya dia tak bertanya apakah aku
sudah mencintainya atau belum. Apa dia mulai bosan karena sudah tahu jawaban
dari pertanyaan itu?
***
Jam menunjukkan pukul 01.01 WIB.
Aku berusaha tidur, tapi otakku tidak mau berhenti memikirkan Shinta. Aku pun
meninggalkan ranjang empuk kami dan memeriksa barang Kevin yang berserakan di
ruang tamu, mencari sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk. Foto, misalnya. Jika
masih cinta, pasti aku bisa menemukan benda itu di suatu tempat.
Dengan hati-hati, aku mulai
mengumpulkan satu per satu benda yang tersebar: kunci mobil yang diletakkan di
sofa, struk belanja di dekat tempat sampah, juga berlembar-lembar kertas dan
buku-buku yang berserakan di meja. Aku mematung beberapa detik saat menemukan
sebuah buku bersampul hitam. Terdorong penasaran, aku membacanya.
17 Agustus 2024
Setelah mendapati beberapa komentar 'cantik' pada postingan foto
terbaruku, aku dilarang bermain sosial media oleh suamiku tercinta. Mulai
sekarang, aku akan menuliskan isi kepalaku di sini dan menyimpan foto-fotoku di
galeri ponsel. Semoga Kevin tidak menemukan buku ini karena pasti di setiap
lembar tertulis namanya.
Suamiku tercinta? Apakah ini
diary milik Shinta?
18 Agustus 2024
Kevin jago masak. Aku jago makan. Kami pasangan yang sempurna.
Aku memutar bola mata sambil
melompati beberapa halaman. Jago katanya. Masak air saja bisa sampai gosong.
Kemungkinan paling masuk akal, Kevin memberinya makanan yang dipesan dari
restoran atau menyuruh asisten rumah tangga, lalu mengaku-ngaku kalau itu masakannya.
25
Februari 2025
Dua garis biru. Semangat menyambut kehidupan baru.
26
Februari 2025
Kevin sedang banyak pikiran dan aku belum juga memberi tahu tentang
janin di perutku. Kapan waktu yang tepat?
27
Februari 2025
Aku mencintai Kevin. Sangat. Hanya saja, apakah dia juga merasa hal
yang sama?
28
Februari 2025
Harga diriku terluka. Kevin, lelaki yang tampak berbakti pada orang tua
dan memperlakukan adik perempuannya dengan penuh cinta itu, ternyata tak
memberiku perlakuan serupa. Baginya, aku tak lebih orang asing yang menumpang
hidup di rumahnya. Aku selalu dibanding-bandingkan dengan mereka. Setiap
terjadi perselisihan, aku selalu jadi pihak yang disalahkan. Aku harus mengalah
atas nama “kedamaian” yang tak pernah kurasakan.
Aku tahu, anak harus berbakti pada ibu. Tapi, bukankah istri adalah
tanggung jawab suami? Aku butuh rasa aman, rasa nyaman. Kenapa hanya aku yang
selalu dikritik, disalahkan, disuruh mengalah, dan meminta maaf pada hal yang
tidak aku lakukan? Ini namanya pembulian.
Harusnya Kevin menikahi ibunya. Bukan aku.
1 Maret 2025
Tatapan Levin membuatku merasa tidak nyaman. Aku ingin pulang.
2 Maret 2025
Levin datang ke rumah. Dia menyuruhku bercerai dengan Kevin. Aku takut,
tapi tidak ada yang peduli. Semua orang sibuk dengan dirinya sendiri.
Sesuatu jatuh dari sela-sela
lembaran buku. Aku berhenti membaca dan melihat benda itu. Pertama, foto
seorang pria paruh baya berpakaian batik yang tersenyum ke arah kamera; itu
mendiang ayahku. Kedua, fotoku bersama Kevin. Ini ... Kevin atau Levin? Kenapa
dia punya lesung pipi?
Aku menatap foto itu lekat-lekat,
menyebabkan nyeri di kepala yang sangat hebat. Satu per satu memori masa lalu
menghampiri, bagai cahaya terang yang mengusir kabut, membakar kebingungan.
Beberapa keping ingatan—suara, aroma, sentuhan tangan, hingga rasa takut yang
mencekam—menyatu menjadi sebuah kebenaran yang tidak bisa lagi dipungkiri.
"Nay, kau di
mana?"
Dengan napas memburu, aku berusaha bangkit. Akan tetapi,
dunia di sekitarku mulai kehilangan tepian. Awalnya hanya rasa ringan yang aneh
di ujung jemari, lalu perlahan menjalar ke tengkuk. Aku mencoba mengerjap, tapi
kelopak mataku terasa sangat berat.
Tik. Tik. Tik.
Suara jam dinding
mulai memudar. Setiap detak terdengar lebih jauh, lebih hampa, seolah-olah
benda itu sedang berjalan mundur menjauhiku ke ujung lorong yang sangat
panjang.
Tik.
Telingaku berdenging, lalu mendadak senyap saat kegelapan
merayap naik, menelan seluruh sisa tenaga hingga aku jatuh terlelap dalam tidur
yang tak diinginkan.
***
Entah jam berapa, kelopak mataku
terbuka dengan berat, menyambut kesadaran yang terasa seperti tarikan dari
dasar air pekat, hanya untuk mendapati diriku sedang tergeletak di sebuah
ruangan minim penerangan. Hal yang lebih aneh, seorang lelaki berbaju hitam
terkapar di sampingku dalam keadaan tak sadarkan diri. Cairan pekat berbau
anyir menggenang di dekat kepalanya. Darah?
Tak lama kemudian, terdengar
derap langkah mendekat. Pintu sebelah kanan terbuka. Cahaya yang sangat terang
menerobos masuk bersamaan dengan angin yang berembus lembut. Aroma bunga lily
menusuk lubang hidungku.
Aku menyipitkan mata, berusaha
mengenali pemilik siluet yang berdiri di ambang pintu. Dia berjalan mendekat
dan mengambil sebuah palu godam di samping pria yang tak sadarkan diri itu,
lalu pergi tanpa sepatah kata. Aku ingin bertanya dia siapa, tapi dingin lantai
seolah-olah menarik tubuhku lebih dekat. Dalam sekejap, segalanya berubah
menjadi hitam pekat. Selebihnya aku tak ingat.
***
Aku tersentak ketika merasakan
kecupan di kening. Seperti saat pertama bangun setelah kecelakaan, Kevin
menarikku ke dalam hangat pelukan. Kali ini, dia mengucap selamat pagi
menjelang siang sambil mengulurkan tiga tangkai bunga lily, kesukaanku. Aneh,
aku terbangun di ranjang kamar kami, bukan ruang tamu ataupun ruang pengap
minim penerangan.
Alih-alih tenang, tubuhku malah
menegang. Aroma bunga itu mengingatkanku pada sosok yang muncul di ambang pintu
dan pergi setelah mengambil palu. Tadi itu nyata atau mimpi semata?
Merasa kengerian yang sulit
dijelaskan, refleks aku mendorong tubuh Kevin. Napasku memburu dan jantungku
berdebar sangat kencang. "Kau ... kau bukan Kevin."
"Kata siapa?"
"Kataku. Kau Levin,
kan?"
Dia mengangguk.
"Kenapa selama ini kau
membohongiku? Di mana Kevin?"
"Di saat seperti ini, kau
masih menanyakan pria kasar itu?"
"Aku tanya sekali lagi, di
mana Kevin?"
"Di neraka."
"Kau ... membunuhnya?"
Aku menatap manik matanya lekat-lekat, mencari kejujuran. Tidak mungkin dia
tega membunuh Kevin. Jangankan manusia, Levin bahkan tak tega membunuh semut
yang mencuri kuenya.
"Itu tidak penting. Yang
perlu kautahu, aku akan melindungimu."
Dengan sisa-sisa kekuatan, aku
bangkit dan berjalan terhuyung-huyung ke arah pintu.
Secepat kilat, Levin menangkap
tubuhku yang tersandung kaki sendiri dan nyaris terbentur lantai. Dia
menggendong, lalu merebahkan tubuhku ke ranjang. "Tetap di posisi itu.
Beri aku lima menit, setelah itu kau bebas pergi ke mana pun kau mau."
Aku yang hendak bangkit, kembali
merebahkan tubuh; mengamati Levin dengan sikap waspada.
Dia mengambil buku bersampul
hitam yang kubaca tadi malam, lalu membaca lantang setelah memuji tulisan
tangan yang rapi. Tulisanku. Buku itu milikku! Aku berusaha mengingat semua
yang tertulis di setiap lembar. Hasilnya nihil.
3 Maret 2025
Adu domba. Itu yang dilakukan Levin. Katanya, kami selingkuh. Anehnya,
Kevin lebih percaya kakaknya dibanding aku. Demi Tuhan, seujung kuku pun tak
pernah ada sentuhan.
Tak bisakah Kevin memeriksa kebenaran ucapan Levin sebelum menusukku
dengan lidahnya yang tajam?
4 Maret 2025
Aku akhirnya memberi tahu Kevin tentang kehidupan baru di perutku.
Bukannya bahagia, dia malah menyebut bayi itu anak haram hasil hubunganku
dengan Levin.
5 Maret 2025
Aku kehilangan bayi yang tidak diakui ayah kandungnya sendiri. Entah
harus menangis atau tertawa.
"Kau boleh melakukan
keduanya, Nay. Menangis karena kehilangan dan tertawa karena anak itu tidak
harus merasakan penderitaan dan rasa malu memiliki ayah seperti
Kevin."
Aku membuka mulut untuk protes,
tapi Levin segera lanjut membaca.
12 Maret 2025
Aku rindu mendiang ayahku. Dia satu-satunya pria yang menjaga,
menyayangi, dan mempercayaiku.
"Kau ingat apa yang terjadi
di bulan Maret 2025?" Levin meletakkan sebuah foto USG ke telapak tanganku
yang sedingin es.
Aku meraba foto itu dengan isak
tanpa nama, diiringi ledakan sunyi yang merobek isi perutku dengan kram yang
begitu nyata seolah meratapi kehampaan yang baru saja ia sadari. Jantungku
berdentum menyakitkan, merespons rasa bersalah yang membanjir tanpa penjelasan,
seolah setiap sel tubuhku menjeritkan kata "maaf" kepada sesuatu yang
telah aku hilangkan secara paksa.
Aku mencengkeram kepala dengan
kalap—jemariku meremas dan menjambak rambut, seolah-olah mencoba mencabut
keluar badai yang mengamuk dalam tubuhku. Lalu, bendungan itu jebol.
Ingatan-ingatan asing menyerbu
tanpa ampun. Tak sekadar datang, mereka menghunjam seperti ribuan belati yang
membara, membelah kesadaranku menjadi kepingan nestapa. Setiap fragmen yang
muncul membawa rasa perih yang nyata, merambat turun, meremas organ dalamku
sampai aku lupa bagaimana cara bernapas.
Aku bukan lagi sedang mengingat.
Aku sedang dihancurkan oleh masa lalu yang menolak mati.
Di sebuah malam yang dingin di
bulan Maret 2025, aku berjalan tanpa tujuan dengan air mata yang enggan
berhenti membanjiri kedua belah pipi. Akibat keputusan untuk menggugurkan
kandungan, hilang kemungkinan untuk aku untuk bisa hamil lagi.
Aku memikirkan di mana letak
kesalahannya dengan kebingungan yang menyakitkan. Andai aku tidak mengabaikan
nyeri hebat setelah tindakan itu, barangkali kondisiku bisa sedikit lebih baik
dan Kevin—yang menyuruh aborsi—tak akan menyalahkanku atas konsekuensi dari
keputusan itu. Tidak, aborsi bukan solusi. Harusnya aku tak memedulikan Kevin
yang mengancam akan menceraikanku jika bayi itu tetap dipertahankan. Tidak!
Harusnya aku tidak menikah dengan Kevin.
Merasa tak punya alasan untuk
tetap hidup, aku melompat ke jalan raya saat sebuah kendaraan roda empat
melintas dengan kecepatan tinggi. Ingatan terakhir sebelum hilang kesadaran,
Levin berlari mendekat sambil memanggil-manggil namaku dengan suaranya yang
pecah.
"Aku ... kehilangan bayiku?
Depresi? Bunuh diri?" Suaraku parau, tenggelam dalam amarah yang dingin.
"Harusnya kau tidak menyelamatkanku, Vin."
"Jika aku tidak
menyelamatkanmu, kita tidak akan saling jatuh cinta, Nay."
"Perasaan yang dibangun di
atas kebohongan, apa masih bisa disebut cinta?"
Levin membuang pandangan ke arah
buku harianku yang dia lempar asal ke ranjang, lalu menyahut dengan nada dingin
dan sinis, "Setidaknya aku memperlakukanmu bagai ratu. Bagiku, kau juara
satu. Prioritas. Aku jauh beda dengan Kevin yang memperlakukanmu seperti
sampah. Dia terlalu mudah mengkritik, menyalahkan, bahkan meragukan
kesetiaanmu. Apa dia masih bisa disebut manusia setelah menyuruhmu menggugurkan
bayi tak berdosa itu? Hanya karena ragu? Tolol!"
Di kejauhan, raungan sirine
menyayat keheningan—mulanya samar, lalu merayap naik seperti detak jantung yang
berpacu di balik tulang rusuk.
"Jemputanku akan segera
tiba. Boleh aku memelukmu untuk yang terakhir kalinya?" Levin berdiri
dengan tangan terentang. Tatapannya melembut dan penuh ketulusan. Alisnya
terangkat, seolah-olah memberi ruang bagiku untuk memilih: mendekat atau tetap
diam.
Aku bergeming, menatap kosong ke
arah dadanya, sementara hatiku sibuk berperang dengan luka yang membuatku ragu
untuk sekadar memberikan kenyamanan semu. Kenapa situasi ini terjadi di saat
aku mulai mencintai dan dicintai sepenuh hati?
Levin duduk di tepi ranjang. Dia
tersenyum tipis, jenis senyum yang terkesan dipaksakan. "Hanya
sebentar," bisiknya lagi, hampir tak terdengar. "Agar aku punya
sesuatu yang bisa diingat saat perjalananku nanti terasa terlalu berat."
Aku berusaha bangkit. Akan
tetapi, lututku lemas sebelum sempat mencapainya. Beruntung, dia menangkapku
lebih dulu.
Dalam hangat dekapannya, tangisku
kembali pecah. Bukan lagi sekadar isak, melainkan sebuah raungan parau yang
keluar dari celah dada yang retak. Aku mencengkeram kemejanya seolah jika aku
melepaskan barang sedetik, jiwaku akan ikut luruh ke lantai dan hancur
berkeping-keping.
“Nay, sudahkah kau mencintaiku?”
bisiknya sendu.
Terdengar bunyi pintu depan
didobrak paksa, lalu langkah kaki mendekat. Levin segera mendorongku menjauh
dari tubuhnya. "Berjanjilah, kau akan tetap hidup. Aku akan segera
kembali."
Pintu kamar terbuka, disusul
teriakan instruksi dan sorotan lampu senter polisi yang menyilaukan. Di tengah
moncong senjata yang mengarah ke jantung, Levin hanya bisa mematung, membiarkan
borgol mengunci pergelangan tangannya tanpa sedikit pun perlawanan.
***
Setelah Levin ditangkap, aku
tinggal di sebuah pondok kecil di tepi kota. Sendiri. Terisolasi. Menjauh dari
mulut pedas ibu mertuaku dan anak perempuannya—mereka menyalahkanku atas
kematian Kevin dan perbuatan Levin terhadap saudara kembarnya itu.
Dua setengah tahun menjalani
konseling dengan seorang psikolog, aku perlahan menemukan alasan untuk tetap
hidup. Aku semakin mengenal diriku sendiri, bahkan mampu mendapat ingatan utuh
tentang kasus pembunuhan Kevin. Sesuatu yang sempat kukira mimpi, ternyata
nyata. Saat itu, kesadaranku timbul tenggelam. Wajar jika saat bangun, aku
kebingungan.
Seperti dugaan, pria yang tergeletak tak sadarkan diri
dengan darah menggenang di samping kepalanya adalah Kevin. Seorang yang
mengambil palu godam dan pergi begitu saja adalah Levin.
Malam itu, Kevin berkunjung dan
diam-diam memindahkan tubuhku ke tempat lain. Aku sempat terbangun di
perjalanan ke sebuah bangunan tua di tepi kota, tapi pura-pura pingsan sambil
menunggu waktu yang tepat untuk kabur darinya.
Saat mobil berhenti, aku
mendorong Kevin yang hendak menggendongku, lalu membuka pintu sebelah kiri. Aku
bisa kabur andai gerakan Kevin tak cukup cepat untuk mencengkeram tanganku
erat-erat.
Sambil membanting pintu, amarah
Kevin meledak bagai gunung api yang lama tersumbat. Dengan nada bicara sinis,
dia mulai melontarkan kritikan. Dia bahkan memukulku karena tak mengenali
suaminya sendiri dan malah enak-enak selingkuh dengan kembarannya.
Sekeras apa pun aku menangis,
meraung, meminta belas kasihan, dia tidak peduli. Dia hanya fokus pada emosinya
sendiri. Karenanya, kesadaranku tenggelam dengan cara yang menyakitkan: leher
dicekik dengan kedua tangan.
Saat kesadaran kembali, tubuhku
telah berpindah ke sebuah kamar asing yang pengap. Dinding-dinding di
sekelilingku dilapisi wallpaper botani yang telah membusuk dan menghitam,
menciptakan ilusi sulur-sulur hidup yang seolah merambat perlahan di bawah cahaya
bulan yang pucat. Sambil menyeret palu bergagang panjang, Kevin melanjutkan
omelan yang sempat terhenti.
Semua akan baik-baik saja jika
aku tak pingsan dan kembali menjadi Naya setelah memukul kepalanya dengan palu
godam yang dia bawa. Dengan otak cerdas Shinta, pasti ada solusi untuk terbebas
dari tuduhan polisi sehingga Levin tak perlu meninggalkan sidik jari di gagang
palu itu dan sukarela mengaku sebagai pelaku.
Andai Shinta terjaga lebih lama,
pasti Levin tak akan mendekam di penjara. Untuk yang terakhir kalinya, bisakah
aku meminta bantuan Shinta supaya memperbaiki semuanya?
Yk, 28022026

0 Comments