Takdir Tidaklah Lebih dari Sebuah Kisah yang NaifLanang Irawan
Anggaplah Tuan sedang duduk di depan panggung teater yang sudah ditata orang amatir. Tuan lalu disuguhi adegan seorang lelaki tua bungkuk mondar-mandir. Kepala botaknya mengilap di bawah lampu motel dua lantai yang temaram.
Imajinasi Tuan mendengarnya juga, bukan?
Sesekali dari bibir keriputnya itu keluar gerutuan, yang mengalahkan desir
angin laut dan debur ombak.
Sementara itu, cat motelnya sudah kabur.
Temboknya mengelupas. Bila Tuan memasuki properti itu lebih dalam, di salah
satu sudutnya, di belakang kursi tempat lelaki tua itu duduk, besi rangka
bangunan yang sudah berkarat mencuat, dicocoki oleh koran bertahun terbit 1900.
Di bagian luar, kata 'MADÁR' menyala di
papan logo yang menggantung miring di atas pintu masuk, dan itu saja yang
membedakannya dengan tempat pembuangan sampah bagi orang-orang yang lewat
sekilas.
Sampai di sini Tuan pasti paham bahwa
lelaki tua itu adalah pemiliknya, kan? Sebenarnya, Tuan, tokoh kita ini bukan
seorang yang sudi ikut campur urusan orang lain. Asal harga sewa motelnya
dibayar sesuai waktu yang disepakati dengan penyewa, apa pun yang terjadi di
motelnya itu ia tidak peduli.
Motelnya malah pernah dijadikan tempat
persembunyian mafia, kartel narkoba, sampai Jendral yang kabur dari peperangan.
Si lelaki tua (mari kita namai ia John, Tuan) selalu baru tahu setelah petugas
keamanan datang bersama pasukannya.
"Ah, John! Kau membiarkan tangkapan
lepas lagi! Mana mungkin aku naik pangkat kalau begini!" Komandan pasukan
itu kita gambarkan saja berkumis lebat, dan itu satusatunya senjata agar orang
lemah takut kepadanya. Namun, John tidak peduli.
Itulah sedikit gambaran mengenai sikap
John, Tuan. Di kota E sendiri, kita buat saja si kakek itu lebih tua dari kota
mereka.
Akan tetapi, mari sekarang
kita melihat rautnya agak teliti. John sedang waswas, Tuan. Pasalnya, perempuan
yang menyewa motelnya belum keluar lebih dari sebelas jam setelah masuk.
Bila melihat catatan di
buku tamu, perempuan itu masuk saat John terkantuk-kantuk di meja tunggu pukul 13:51,
dan menyewanya cuma untuk enam jam.
John berdialog dengan nada seorang lelaki
tua menahan kesal. "Sialan, apa perempuan itu mengiris nadinya di
kamar?"
Sejak perempuan itu masuk, jendelanya
dibiarkan terbuka. John tengadah untuk ke sekian kalinya seolah-olah dengan
begitu ia bisa melihat ke dalam kamar.
Adegan yang terjadi selanjutnya membuat
John tertegun, seekor merpati—tidak, seekor terlalu sedikit. Gerombolan merpati
keluar dari ruangan perempuan itu. Bukan camar atau pelikan, melainkan
benar-benar merpati.
Tuan, mari kita
persempit lanskap panggungnya!
Sekarang kita akan fokus pada mata John
yang sudah agak berlamur. Namun, karena suatu hal, mata tuanya itu kini
memancarkan cahaya bulat yang berlubang di tengahnya. Silakan Tuan masuk ke
dalam untuk menjelajahinya!
John lahir di pinggiran kota tua. Ia anak
pedagang kain. Ekonomi keluarganya tidak baik juga tidak buruk. Tuan tentu
tahu, orang-orang yang berada di tengah-tengah, orang-orang yang terlalu jujur
menjalani hidup, keluarganya sedikit lebih tinggi dari jelata, tetapi tidak
cukup bisa menggapai kata kaya.
Syukurlah John hidup di keluarga seperti
itu—atau mungkin tidak—sebab ia bisa tumbuh menjadi pemuda yang bersahaja,
terpelajar, disukai kawula muda dan orang tua. Apalagi tubuhnya tegap, cakap,
itu sebelum digebuk sarung pedang penjaga, sehingga ia bungkuk sampai masa
tuanya.
Suatu hari yang istimewa ia menggantikan
ayahnya berjualan. Para bangsawan dari istana-istana di wilayah-wilayah mereka
berbondong-bondong menuju kekaisaran. Saat itu ulang tahun ketujuh belas putra
mahkota, juga hari kematian Ibu John yang juga ketujuh belas. (Untuk latar
belakang tambahan, kita putuskan ibunya mati karena cacar, Tuan.)
Sebuah rombongan bangsawan tiba-tiba
berhenti sepuluh langkah dari tempatnya berdagang. Debu membubung. Udara
pengap. Pasar kecil itu sesak.
Semenggelikan apa pun
hukum tetaplah hukum. Kaum jelata harus menunduk kepada bangsawan, tidak boleh
tidak. Namun, karena John tokoh utama kita, jelas ia tidak.
Pandangannya acuh tak acuh, sembari
pura-pura fokus menepuk-nepuk debu dari kainkainnya.
Seorang perempuan
turun dari kereta yang paling megah. Dua orang ksatria muda berjalan
mengiringinya.
Melihat sikap John yang sembrono, ksatria
sebelah kanan mencabut pedang, (sebenarnya ksatria ini iri pada John, Tuan,
tetapi bukan di adegan ini John digebuk).
"Berhenti!" teriak putri
bangsawan itu ketika mendengar gesekan pedang.
Matanya yang bundar dan bersinar agak dingin
ketika menghalangi tindakan kesatrianya, tetapi melembut dengan cepat ketika
menyapa si pemuda pedagang kain.
"John Weirxer? Kau, kah, ini?"
Suara si perempuan ini sangat feminin. Sebuah suara yang jika lelaki mata
keranjang mendengarnya, pikiran mereka akan membayangkan ranjang. Rambutnya
yang pirang tertiup angin. (Tuan boleh menambahkan musik latar di adegan ini.)
"Ah, Ellia?" John terpaku. Di
Akademi Kerajaan, hanya perempuan dari kaum bangsawan inilah yang tak gila
hormat dan memandang manusia itu setara.
"Maaf, Nona Ellia?" John
memperbaiki sikapnya. Ia membungkuk sambil meletakkan tangan kanan yang
dikepalkan di dada kirinya.
"Jangan bersikap
begitu." Ellia menyapukan tangan ke udara, sambil melengak sedikit.
"Aku hanya hendak membeli kain. Rupanya kau tak berbohong ketika mengaku
seorang pedagang kain."
"Tentu saja,
Nona. Tidak bijak mengatakan kebohongan yang tidak menguntungkan."
"Berarti ada
bohong yang menguntungkan, John?"
"Saya
pedagang, Nona."
Keduanya tergelak. Dua ksatria berdiri
tegak. Obrolan mereka terus berlanjut—dan cukup membuat Tuan muak bila saya
menulis seluruhnya—sampai tiba pada ajakan Ellia yang ingin menemui John secara
pribadi setelah pulang dari kekaisaran.
John hendak menolak. Namun, sikap Ellia
yang agak berbeda di percakapan terakhir membuatnya tercenung, seperti ada satu
hal besar yang ingin ia sampaikan.
Dua hari yang mereka janjikan terasa datang
lebih lambat. John sendiri tidak tahu alasannya. Ia masih tujuh belas tahun,
tingkat dua di Akademi, dan di sana tidak ada pelajaran tentang rasa di masa
pubertas, apalagi cara berdandan untuk jelata supaya bisa memikat putri
bangsawan.
John menggelengkan kepala. Ia membuang
bibit cinta yang tak pernah tahu kapan ia menanamnya. Untuk meredakan rasa itu,
ia menenggak bir murah di kedai. Saat itulah sosok Ellia masuk, wajahnya pucat,
napasnya tersengal-sengal.
"John!"
"Ellia, ada
apa? Kenapa—"
"Bawa aku
lari, John! Aku tahu perasaanku sama denganmu. Tolong!"
"Ellia?"
John menganga. Pikiran semrawut seketika.
Bir murah tidak pernah memberikan efek seperti itu kepadanya.
"Kumohon,
John! Aku tidak mau menikah dengan Baron Leon!"
Mengalirlah
cerita mengenai perjodohan itu, tepatnya sehari sebelum acara ulang tahun putra
mahkota.
Ellia tidak menghendaki datang ke
kekaisaran sebelumnya. Ia lebih senang melukis sosok John di rubanah, tetapi
karena masalah perjodohan itu, ia memutuskan menawarkan diri kepada ayahnya,
demi bisa bertemu pemuda pedagang kain yang dicintainya.
"Baguslah, di
sana kau akan menemui calon suamimu." Ayahnya berkomentar.
Sementara mendengarkan cerita Ellia, John
terbawa alur konflik dan merenung. Membayangkan Ellia akan dikawini lelaki lain
hatinya tiba-tiba ditebas pedang dan dicabikcabik, dan luka yang membunuh
diam-diam kadang sunyi dan tak berdarah.
John mengingat ayahnya yang masih cukup
muda, empat puluh dua tahun, dan sebentar lagi akan menikah untuk kedua kali
dengan Nouneh, pedagang lilin. Akan sanggupkah ayahnya menghadapi masalah yang
ditimbulkannya bila ia melarikan seorang putri bangsawan? Akan sanggupkah ia
menjalaninya? Akan bagaimanakah Ellia dan ia nantinya?
John menatap Ellia. Matanya yang kebiruan
tampak indah di atas hidung yang lancip. Bibirnya yang seperti potongan apel
terlihat selalu basah, dan wajah ovalnya adalah kecocokan tiada tara. Sedikit
bintik-bintik hitam di pipinya adalah bintang-bintang di kala malam terang.
'Tidak!' batin John, bukan itu yang
membuatnya mencintai Ellia, melainkan sikap adilnya.
"Apa yang perlu kita bawa? Ke mana
kita menuju?" John berkata dengan gemetar. Ellia lekas menggenggam tangan
John dan menciumnya. Air mata keharuan gadis itu menjatuhi buku-buku jemari
John.
"Ke mana saja. Ke gua
pun tak masalah. Aku tahu kau sama mencintaiku, John."
Malam itu juga pelarian sepasang cinta
terjadi, Tuan. Mulanya, tidak ada sedikit pun beban di pikiran mereka, selain
apa yang seharusnya dirasakan oleh dua orang yang sedang memperjuangkan
kemerdekaan rasa.
Akan tetapi, nun jauh di
belakang, satu pasukan khusus mengejar mereka, di antaranya adalah dua ksatria
penjaga Ellia. Pimpinannya Baron Leon, seseorang yang naik kasta dengan bermain
sebagai penjilat orang istana.
Ellia lebih sering berlarian di dalam
imajinya saja. Beda halnya dengan John yang suka memanggul gulungan-gulungan
kain bolak-balik. Gadis bangsawan itu lelah dengan cepat, telapak kakinya
melepuh. Perhatian John dan keinginannya saja yang membuatnya masih membuatnya
nekat.
Ketika tubuhnya meminta istirahat, ia
membayangkan digagahi Baron Leon seperti tikus diganyang kucing setiap malam.
Ellia muntah, tetapi semangatnya tumbuh.
Bukankah Ellia sungguh-sungguh gadis yang
cocok bersanding dengan tokoh utama kita, Tuan?
Namun, jurang antara kebebasan cinta dan
penderitaan takdir itu setipis kain murah diiris delapan, Tuan. Sungguh pun
sudah berupaya, mereka berdua akhirnya terkejar.
John segera ditangkap. Ellia meronta-ronta.
Kalau benar ada tangisan yang lebih mengerikan dari seorang ibu yang kehilangan
bayinya, mungkin itulah tangisan Ellia.
Di hadapannya ia melihat John dipukuli
sampai tak berbentuk. Diludahi wajah lelakinya itu secara bergiliran meskipun
sudah remuk.
"Ellia ...." kata John amat lemah
sebelum tumbang di atas pasir gurun, jauh dari jangkauan Ellia, jauh dari gua
yang mereka tuju, jauh dari keluarganya.
Mungkin hati wanita adalah teka-teki paling
rumit, tetapi yakinlah tiada yang tulus berkorban demi yang dicintai kecuali
mereka, Tuan. Begitu pula Ellia, ia berjanji akan menuruti semua kemauan sang
Baron asalkan John dibiarkan hidup.
Ellia dibawa ke
keluarganya sebagai noda bangsawan. John dipenjara.
Ayah Ellia murka. Ia mengutus pasukan untuk
memorak-porandakan dan menjarah rumah keluarga Weirxer. Sanak-saudara Weirxer
mengutuk John. Hanya ayahnya yang setia, yang berharap John masih berumur
panjang supaya tidak lagi mencintai bangsawan mana pun.
Secara lahiriah, mari akhiri hubungan
mereka sampai di sana, Tuan. Katakanlah kehidupan keduanya berlanjut meskipun
dengan jalan yang berbeda.
Tokoh kita baru dibebaskan sebulan setelah
Ellia mengukuhkan dirinya sebagai orang berpengaruh, dan itu terjadi lima tahun
setelah adegan pembongkokan itu, Tuan.
Adapun mengenai apa dan bagaimana usaha
Ellia memperoleh pengaruh itu sengaja tidak saya tuliskan, sebab rasanya itu
akan terlalu berlarat-larat untuk cerita kita, Tuan. Mari lanjutkan!
Setelah kejadian itu dalam kepala John
hanya ada Ellia, seperti suatu belantara yang ditumbuhi satu jenis bunga saja.
Hanya sebentar-sebentar kesadarannya pulih. Oleh orangorang, John sudah
dianggap setengah sinting dan terkutuk karena pernah berani melarikan
bangsawan.
John tinggal di rumah kumuh dengan ayahnya.
Karena tempat itu berada di pesisir pantai, mereka hidup dari menangkap ikan.
Sampai suatu malam, John mendapati ayahnya berbincang-bincang dengan seekor
burung gagak.
Ayah John memberikan ikan kering pada gagak
itu setelah mengambil surat yang ditambatkan di kakinya. Setelah membacanya, ia
meremas surat itu dan membuangnya. "Katakan kepada Tuanmu," kata Ayah
John, "ia tidak perlu menyuruhku menjadi serdadu berani mati. Aku sendiri
yang akan pergi menuntut balas atas putraku."
Pemuda kita itu hanya diam melihat sikap
sang ayah, Tuan, bayangan Ellia terburu memblokir pandangan dan pendengarannya
lagi dari dunia.
Namun, seolah-olah semesta sedang bekerja,
angin laut yang berembus kencang dan berbau laut mengantarkan bulatan kertas
itu ke ujung kaki John.
Kesadaran John terusik dan tertarik oleh
angin itu. Saat itulah ia memungut kertas tersebut dan membacanya.
"Bersediakah kau mati demi memusnahkan
sistem yang usang ini? Bergabunglah dengan pasukan pembebasan."
Begitulah bunyi suratnya, Tuan, dan nama di
bawah surat itu membuat bulu kuduk John meremang; Ellianor Leon.
Mendadak John meraung. Kesakitan akibat
peristiwa lalu mencuat kembali. Nama itu adalah kutukan. Tuan pasti setuju,
bahwa sebuah nama kadang berarti penderitaan yang berkepanjangan untuk
seseorang.
Sang ayah yang mendengar anak semata
wayangnya mengamuk segera memeluknya. Lalu, dengan terpaksa memasungnya.
Burung gagak pengantar surat masuk
mendekati John lewat jendela tak berpenghalang. Ia berkaok-kaok.
John menatap burung itu beringas, tetapi
lama-kelamaan, dari mata burung itu ia melihat sosok Ellia yang menangis dan
hampa sepanjang malam.
Di sisi lain, pemberontakan terhadap
kekaisaran pecah setelah lima tahun dari malam itu. Selama itu pula John selalu
diikuti burung gagak. Kadang, ketika bangun tidur, ia mendapati surat yang
hanya bertuliskan namanya, dan John sudah tahu siapa pengirimnya.
Peperangan adalah peperangan, Tuan. Saya
yakin, selain kiamat, tidak ada tragedi lain yang dengan nyatanya menganggap
nyawa manusia tidak lebih seperti barang yang bisa dibuang dan diisi ulang.
Di tempat dekat laut itu, orang-orang
melarikan diri. Ayah John tak pulang-pulang sejak dua tahun lalu, dan John yang
memilih tinggal sendiri tahu ke mana sang ayah pergi.
Suatu sore, saat John mengangkat jemuran
ikan, saat bibirnya tak henti menggumamkan nama Ellia dan ayahnya, seorang
perempuan bertudung mendekatinya.
"John .... kekasihku!" kata
perempuan itu sambil melepaskan tudungnya.
Mendengar suara yang selama itu hanya
mendekam di kepalanya muncul keluar John mematung, membelalak. Kehadiran Ellia
seperti serbuan tsunami ke pesisir hatinya yang menyempit.
Maka tak pelak lagi, Tuan, kesadaran tokoh
kita kembali retak. Kegilaannya meledak. Alih-alih menyambutnya dengan penuh
kerinduan, tubuh bungkuknya malah menggelinding, menubruk kaki-kaki penjemur
ikan.
Wanita itu menangis melihatnya. Tangisannya
seperti kesedihan orang yang tidak tahu harus berbuat apa sekalipun seandainya
dunia diputar ulang.
Di sanalah maut yang senantiasa mengintai
menampakkan diri, Tuan. Sisa-sisa pasukan kekaisaran yang lari ke wilayah
pinggiran melihat si perempuan.
Kesiut anak-anak panah memecah angin laut.
Ellia berbalik tetapi terlambat, bahkan sekadar untuk terkesima. Ada lima orang
prajurit yang lalu menikam tubuhnya yang sudah rubuh dan tidak berdaya.
Ellianor Leon pun mati, tak dikenali, jauh
dari istananya, jauh dari keluarganya, jauh dari takhta yang berhasil ia
robohkan.
Ellia kita mati di pesisir pantai itu,
Tuan, di halaman rumah orang yang selalu ia cintai. Hanya gagak-gagak
peliharaannya yang menemaninya sambil mematuki mayatnya.
Setelah dua hari, barulah John waras. Ia
pun menangis dengan sadar, sejadi-jadinya. Dengan tangannya sendiri John
mengebumikan tubuh Ellia-nya yang sudah tak utuh.
Kemudian, di tanah kuburan Ellia, John
mendirikan rumah.
Kehidupan berubah dengan cepat. Manusia
berubah. Zaman berubah. Namun, kenangan—bagi yang mengembannya—masih selalu
terasa hangat dan hebat meski sudah delapan puluh tahun berlalu, Tuan.
Lambat-laun orang-orang memenuhi pesisir
itu lagi. John memugar rumah dan mengubahnya menjadi motel. Secara otomatis ia
dikenali sebagai pemilik daerah tersebut. Mereka yang ingin mendirikan bangunan
di sana meminta izin kepadanya terlebih dahulu.
Begitulah, Tuan. Sekarang mari kita lebarkan
kembali lanskap panggung.
Kita lihat John tua masih berdiri di sana,
dan setelah sinar di matanya meredup, ia naik ke kamar penyewa itu susah payah.
Diketuknya pintu kamar itu. Tak ada jawaban.
Pintu kamar itu tak dikunci. John masuk.
Matanya langsung dihadapkan dengan seorang perempuan yang berdiri di kusen
jendela dan terbang seperti burung.
Tuan, seandainya ada manusia yang bisa
menumbuhkan sayap, tentu perempuan itu sudah terbang dengan benar, bukan hanya
dengan nyawanya.
Hal itu membuat John terkesima, dan sebelum
lari ke luar ia melihat kertas di kasur perempuan itu.
Mata rabun John tentu sudah tidak sanggup
membacanya, tetapi mari kita baca kalimat yang ditulis perempuan itu, Tuan!
Apakah masih
disebut cinta bila aku juga mati?
Tuk! Tuk! Tuk!
Ah, bunyi sialan
itu lagi.
Aku berhenti menyunting tulisan yang aku
salin dan tempel dari sana-sini. Belakangan ini jendelaku makin sering
diketuk-ketuk, dan yang itu entah sudah ke berapa kali.
Sebulan lalu, sepulang merayakan pernikahanku
dengan Selena, seekor burung gagak menjatuhkan kertas berisi catatan: Kisahkan
aku sesuatu, atau burung-burung gagak ini mematuki mayatmu dan kekasihmu!
Awalnya aku terbahak-bahak dan
mengolok-olok bahwa aku dan Selena akan mati membakar diri, tetapi sekarang
tidak.
Orang mungkin tidak percaya, tapi sungguh!
Burung-burung itu tak pernah meninggalkan rumah kami sedikit pun. Ke mana pun
aku dan Selena pergi, mereka selalu mengikuti.
Sepertinya aku harus segera menyerahkannya.
Persetan pengirim burung-burung sialan itu akan puas apa tidak!
Seandainya aku pengarang bukan buruh
pabrik, mungkin tak kan kesulitan membuat cerita.
Sialan!
Sebenarnya apa
yang terjadi?
Curugkembar, 1 Maret 2026.

0 Comments