Takdir Tidaklah Lebih dari Sebuah Kisah yang Naif - Lanang Irawan

Juara 1 - Love in Sadness S3


Takdir Tidaklah Lebih dari Sebuah Kisah yang Naif
Lanang Irawan


Anggaplah Tuan sedang duduk di depan panggung teater yang sudah ditata orang amatir. Tuan lalu disuguhi adegan seorang lelaki tua bungkuk mondar-mandir. Kepala botaknya mengilap di bawah lampu motel dua lantai yang temaram.

Imajinasi Tuan mendengarnya juga, bukan? Sesekali dari bibir keriputnya itu keluar gerutuan, yang mengalahkan desir angin laut dan debur ombak.

Sementara itu, cat motelnya sudah kabur. Temboknya mengelupas. Bila Tuan memasuki properti itu lebih dalam, di salah satu sudutnya, di belakang kursi tempat lelaki tua itu duduk, besi rangka bangunan yang sudah berkarat mencuat, dicocoki oleh koran bertahun terbit 1900.

Di bagian luar, kata 'MADÁR' menyala di papan logo yang menggantung miring di atas pintu masuk, dan itu saja yang membedakannya dengan tempat pembuangan sampah bagi orang-orang yang lewat sekilas.

Sampai di sini Tuan pasti paham bahwa lelaki tua itu adalah pemiliknya, kan? Sebenarnya, Tuan, tokoh kita ini bukan seorang yang sudi ikut campur urusan orang lain. Asal harga sewa motelnya dibayar sesuai waktu yang disepakati dengan penyewa, apa pun yang terjadi di motelnya itu ia tidak peduli.

Motelnya malah pernah dijadikan tempat persembunyian mafia, kartel narkoba, sampai Jendral yang kabur dari peperangan. Si lelaki tua (mari kita namai ia John, Tuan) selalu baru tahu setelah petugas keamanan datang bersama pasukannya.

"Ah, John! Kau membiarkan tangkapan lepas lagi! Mana mungkin aku naik pangkat kalau begini!" Komandan pasukan itu kita gambarkan saja berkumis lebat, dan itu satusatunya senjata agar orang lemah takut kepadanya. Namun, John tidak peduli.

Itulah sedikit gambaran mengenai sikap John, Tuan. Di kota E sendiri, kita buat saja si kakek itu lebih tua dari kota mereka.

Akan tetapi, mari sekarang kita melihat rautnya agak teliti. John sedang waswas, Tuan. Pasalnya, perempuan yang menyewa motelnya belum keluar lebih dari sebelas jam setelah masuk.

Bila melihat catatan di buku tamu, perempuan itu masuk saat John terkantuk-kantuk di meja tunggu pukul 13:51, dan menyewanya cuma untuk enam jam.

John berdialog dengan nada seorang lelaki tua menahan kesal. "Sialan, apa perempuan itu mengiris nadinya di kamar?"

Sejak perempuan itu masuk, jendelanya dibiarkan terbuka. John tengadah untuk ke sekian kalinya seolah-olah dengan begitu ia bisa melihat ke dalam kamar.

Adegan yang terjadi selanjutnya membuat John tertegun, seekor merpati—tidak, seekor terlalu sedikit. Gerombolan merpati keluar dari ruangan perempuan itu. Bukan camar atau pelikan, melainkan benar-benar merpati.

Tuan, mari kita persempit lanskap panggungnya!

Sekarang kita akan fokus pada mata John yang sudah agak berlamur. Namun, karena suatu hal, mata tuanya itu kini memancarkan cahaya bulat yang berlubang di tengahnya. Silakan Tuan masuk ke dalam untuk menjelajahinya!

John lahir di pinggiran kota tua. Ia anak pedagang kain. Ekonomi keluarganya tidak baik juga tidak buruk. Tuan tentu tahu, orang-orang yang berada di tengah-tengah, orang-orang yang terlalu jujur menjalani hidup, keluarganya sedikit lebih tinggi dari jelata, tetapi tidak cukup bisa menggapai kata kaya.

Syukurlah John hidup di keluarga seperti itu—atau mungkin tidak—sebab ia bisa tumbuh menjadi pemuda yang bersahaja, terpelajar, disukai kawula muda dan orang tua. Apalagi tubuhnya tegap, cakap, itu sebelum digebuk sarung pedang penjaga, sehingga ia bungkuk sampai masa tuanya.

Suatu hari yang istimewa ia menggantikan ayahnya berjualan. Para bangsawan dari istana-istana di wilayah-wilayah mereka berbondong-bondong menuju kekaisaran. Saat itu ulang tahun ketujuh belas putra mahkota, juga hari kematian Ibu John yang juga ketujuh belas. (Untuk latar belakang tambahan, kita putuskan ibunya mati karena cacar, Tuan.)

Sebuah rombongan bangsawan tiba-tiba berhenti sepuluh langkah dari tempatnya berdagang. Debu membubung. Udara pengap. Pasar kecil itu sesak.

Semenggelikan apa pun hukum tetaplah hukum. Kaum jelata harus menunduk kepada bangsawan, tidak boleh tidak. Namun, karena John tokoh utama kita, jelas ia tidak.

 

Pandangannya acuh tak acuh, sembari pura-pura fokus menepuk-nepuk debu dari kainkainnya.

Seorang perempuan turun dari kereta yang paling megah. Dua orang ksatria muda berjalan mengiringinya.

Melihat sikap John yang sembrono, ksatria sebelah kanan mencabut pedang, (sebenarnya ksatria ini iri pada John, Tuan, tetapi bukan di adegan ini John digebuk).

"Berhenti!" teriak putri bangsawan itu ketika mendengar gesekan pedang.

Matanya yang bundar dan bersinar agak dingin ketika menghalangi tindakan kesatrianya, tetapi melembut dengan cepat ketika menyapa si pemuda pedagang kain.

"John Weirxer? Kau, kah, ini?" Suara si perempuan ini sangat feminin. Sebuah suara yang jika lelaki mata keranjang mendengarnya, pikiran mereka akan membayangkan ranjang. Rambutnya yang pirang tertiup angin. (Tuan boleh menambahkan musik latar di adegan ini.)

"Ah, Ellia?" John terpaku. Di Akademi Kerajaan, hanya perempuan dari kaum bangsawan inilah yang tak gila hormat dan memandang manusia itu setara.

"Maaf, Nona Ellia?" John memperbaiki sikapnya. Ia membungkuk sambil meletakkan tangan kanan yang dikepalkan di dada kirinya.

"Jangan bersikap begitu." Ellia menyapukan tangan ke udara, sambil melengak sedikit. "Aku hanya hendak membeli kain. Rupanya kau tak berbohong ketika mengaku seorang pedagang kain."

"Tentu saja, Nona. Tidak bijak mengatakan kebohongan yang tidak menguntungkan."

"Berarti ada bohong yang menguntungkan, John?"

"Saya pedagang, Nona."

Keduanya tergelak. Dua ksatria berdiri tegak. Obrolan mereka terus berlanjut—dan cukup membuat Tuan muak bila saya menulis seluruhnya—sampai tiba pada ajakan Ellia yang ingin menemui John secara pribadi setelah pulang dari kekaisaran.

John hendak menolak. Namun, sikap Ellia yang agak berbeda di percakapan terakhir membuatnya tercenung, seperti ada satu hal besar yang ingin ia sampaikan.

Dua hari yang mereka janjikan terasa datang lebih lambat. John sendiri tidak tahu alasannya. Ia masih tujuh belas tahun, tingkat dua di Akademi, dan di sana tidak ada pelajaran tentang rasa di masa pubertas, apalagi cara berdandan untuk jelata supaya bisa memikat putri bangsawan.

John menggelengkan kepala. Ia membuang bibit cinta yang tak pernah tahu kapan ia menanamnya. Untuk meredakan rasa itu, ia menenggak bir murah di kedai. Saat itulah sosok Ellia masuk, wajahnya pucat, napasnya tersengal-sengal.

"John!"

"Ellia, ada apa? Kenapa—"

"Bawa aku lari, John! Aku tahu perasaanku sama denganmu. Tolong!"

"Ellia?"

John menganga. Pikiran semrawut seketika. Bir murah tidak pernah memberikan efek seperti itu kepadanya.

"Kumohon, John! Aku tidak mau menikah dengan Baron Leon!"

Mengalirlah cerita mengenai perjodohan itu, tepatnya sehari sebelum acara ulang tahun putra mahkota.

Ellia tidak menghendaki datang ke kekaisaran sebelumnya. Ia lebih senang melukis sosok John di rubanah, tetapi karena masalah perjodohan itu, ia memutuskan menawarkan diri kepada ayahnya, demi bisa bertemu pemuda pedagang kain yang dicintainya.

"Baguslah, di sana kau akan menemui calon suamimu." Ayahnya berkomentar.

Sementara mendengarkan cerita Ellia, John terbawa alur konflik dan merenung. Membayangkan Ellia akan dikawini lelaki lain hatinya tiba-tiba ditebas pedang dan dicabikcabik, dan luka yang membunuh diam-diam kadang sunyi dan tak berdarah.

John mengingat ayahnya yang masih cukup muda, empat puluh dua tahun, dan sebentar lagi akan menikah untuk kedua kali dengan Nouneh, pedagang lilin. Akan sanggupkah ayahnya menghadapi masalah yang ditimbulkannya bila ia melarikan seorang putri bangsawan? Akan sanggupkah ia menjalaninya? Akan bagaimanakah Ellia dan ia nantinya?

John menatap Ellia. Matanya yang kebiruan tampak indah di atas hidung yang lancip. Bibirnya yang seperti potongan apel terlihat selalu basah, dan wajah ovalnya adalah kecocokan tiada tara. Sedikit bintik-bintik hitam di pipinya adalah bintang-bintang di kala malam terang.

'Tidak!' batin John, bukan itu yang membuatnya mencintai Ellia, melainkan sikap adilnya.

"Apa yang perlu kita bawa? Ke mana kita menuju?" John berkata dengan gemetar. Ellia lekas menggenggam tangan John dan menciumnya. Air mata keharuan gadis itu menjatuhi buku-buku jemari John.

"Ke mana saja. Ke gua pun tak masalah. Aku tahu kau sama mencintaiku, John."

Malam itu juga pelarian sepasang cinta terjadi, Tuan. Mulanya, tidak ada sedikit pun beban di pikiran mereka, selain apa yang seharusnya dirasakan oleh dua orang yang sedang memperjuangkan kemerdekaan rasa.

Akan tetapi, nun jauh di belakang, satu pasukan khusus mengejar mereka, di antaranya adalah dua ksatria penjaga Ellia. Pimpinannya Baron Leon, seseorang yang naik kasta dengan bermain sebagai penjilat orang istana.

Ellia lebih sering berlarian di dalam imajinya saja. Beda halnya dengan John yang suka memanggul gulungan-gulungan kain bolak-balik. Gadis bangsawan itu lelah dengan cepat, telapak kakinya melepuh. Perhatian John dan keinginannya saja yang membuatnya masih membuatnya nekat.

Ketika tubuhnya meminta istirahat, ia membayangkan digagahi Baron Leon seperti tikus diganyang kucing setiap malam. Ellia muntah, tetapi semangatnya tumbuh.

Bukankah Ellia sungguh-sungguh gadis yang cocok bersanding dengan tokoh utama kita, Tuan?

Namun, jurang antara kebebasan cinta dan penderitaan takdir itu setipis kain murah diiris delapan, Tuan. Sungguh pun sudah berupaya, mereka berdua akhirnya terkejar.

John segera ditangkap. Ellia meronta-ronta. Kalau benar ada tangisan yang lebih mengerikan dari seorang ibu yang kehilangan bayinya, mungkin itulah tangisan Ellia.

Di hadapannya ia melihat John dipukuli sampai tak berbentuk. Diludahi wajah lelakinya itu secara bergiliran meskipun sudah remuk.

"Ellia ...." kata John amat lemah sebelum tumbang di atas pasir gurun, jauh dari jangkauan Ellia, jauh dari gua yang mereka tuju, jauh dari keluarganya.

Mungkin hati wanita adalah teka-teki paling rumit, tetapi yakinlah tiada yang tulus berkorban demi yang dicintai kecuali mereka, Tuan. Begitu pula Ellia, ia berjanji akan menuruti semua kemauan sang Baron asalkan John dibiarkan hidup.

Ellia dibawa ke keluarganya sebagai noda bangsawan. John dipenjara.

Ayah Ellia murka. Ia mengutus pasukan untuk memorak-porandakan dan menjarah rumah keluarga Weirxer. Sanak-saudara Weirxer mengutuk John. Hanya ayahnya yang setia, yang berharap John masih berumur panjang supaya tidak lagi mencintai bangsawan mana pun.

Secara lahiriah, mari akhiri hubungan mereka sampai di sana, Tuan. Katakanlah kehidupan keduanya berlanjut meskipun dengan jalan yang berbeda.

Tokoh kita baru dibebaskan sebulan setelah Ellia mengukuhkan dirinya sebagai orang berpengaruh, dan itu terjadi lima tahun setelah adegan pembongkokan itu, Tuan.

Adapun mengenai apa dan bagaimana usaha Ellia memperoleh pengaruh itu sengaja tidak saya tuliskan, sebab rasanya itu akan terlalu berlarat-larat untuk cerita kita, Tuan. Mari lanjutkan!

Setelah kejadian itu dalam kepala John hanya ada Ellia, seperti suatu belantara yang ditumbuhi satu jenis bunga saja. Hanya sebentar-sebentar kesadarannya pulih. Oleh orangorang, John sudah dianggap setengah sinting dan terkutuk karena pernah berani melarikan bangsawan.

John tinggal di rumah kumuh dengan ayahnya. Karena tempat itu berada di pesisir pantai, mereka hidup dari menangkap ikan. Sampai suatu malam, John mendapati ayahnya berbincang-bincang dengan seekor burung gagak.

Ayah John memberikan ikan kering pada gagak itu setelah mengambil surat yang ditambatkan di kakinya. Setelah membacanya, ia meremas surat itu dan membuangnya. "Katakan kepada Tuanmu," kata Ayah John, "ia tidak perlu menyuruhku menjadi serdadu berani mati. Aku sendiri yang akan pergi menuntut balas atas putraku."

Pemuda kita itu hanya diam melihat sikap sang ayah, Tuan, bayangan Ellia terburu memblokir pandangan dan pendengarannya lagi dari dunia.

Namun, seolah-olah semesta sedang bekerja, angin laut yang berembus kencang dan berbau laut mengantarkan bulatan kertas itu ke ujung kaki John.

Kesadaran John terusik dan tertarik oleh angin itu. Saat itulah ia memungut kertas tersebut dan membacanya.

"Bersediakah kau mati demi memusnahkan sistem yang usang ini? Bergabunglah dengan pasukan pembebasan."

Begitulah bunyi suratnya, Tuan, dan nama di bawah surat itu membuat bulu kuduk John meremang; Ellianor Leon.

Mendadak John meraung. Kesakitan akibat peristiwa lalu mencuat kembali. Nama itu adalah kutukan. Tuan pasti setuju, bahwa sebuah nama kadang berarti penderitaan yang berkepanjangan untuk seseorang.

Sang ayah yang mendengar anak semata wayangnya mengamuk segera memeluknya. Lalu, dengan terpaksa memasungnya.

Burung gagak pengantar surat masuk mendekati John lewat jendela tak berpenghalang. Ia berkaok-kaok.

John menatap burung itu beringas, tetapi lama-kelamaan, dari mata burung itu ia melihat sosok Ellia yang menangis dan hampa sepanjang malam.

Di sisi lain, pemberontakan terhadap kekaisaran pecah setelah lima tahun dari malam itu. Selama itu pula John selalu diikuti burung gagak. Kadang, ketika bangun tidur, ia mendapati surat yang hanya bertuliskan namanya, dan John sudah tahu siapa pengirimnya.

 

Peperangan adalah peperangan, Tuan. Saya yakin, selain kiamat, tidak ada tragedi lain yang dengan nyatanya menganggap nyawa manusia tidak lebih seperti barang yang bisa dibuang dan diisi ulang.

 

Di tempat dekat laut itu, orang-orang melarikan diri. Ayah John tak pulang-pulang sejak dua tahun lalu, dan John yang memilih tinggal sendiri tahu ke mana sang ayah pergi.

 

Suatu sore, saat John mengangkat jemuran ikan, saat bibirnya tak henti menggumamkan nama Ellia dan ayahnya, seorang perempuan bertudung mendekatinya.

 

"John .... kekasihku!" kata perempuan itu sambil melepaskan tudungnya.

 

Mendengar suara yang selama itu hanya mendekam di kepalanya muncul keluar John mematung, membelalak. Kehadiran Ellia seperti serbuan tsunami ke pesisir hatinya yang menyempit.

 

Maka tak pelak lagi, Tuan, kesadaran tokoh kita kembali retak. Kegilaannya meledak. Alih-alih menyambutnya dengan penuh kerinduan, tubuh bungkuknya malah menggelinding, menubruk kaki-kaki penjemur ikan.

 

Wanita itu menangis melihatnya. Tangisannya seperti kesedihan orang yang tidak tahu harus berbuat apa sekalipun seandainya dunia diputar ulang.

 

Di sanalah maut yang senantiasa mengintai menampakkan diri, Tuan. Sisa-sisa pasukan kekaisaran yang lari ke wilayah pinggiran melihat si perempuan.

 

Kesiut anak-anak panah memecah angin laut. Ellia berbalik tetapi terlambat, bahkan sekadar untuk terkesima. Ada lima orang prajurit yang lalu menikam tubuhnya yang sudah rubuh dan tidak berdaya.

 

Ellianor Leon pun mati, tak dikenali, jauh dari istananya, jauh dari keluarganya, jauh dari takhta yang berhasil ia robohkan.

 

Ellia kita mati di pesisir pantai itu, Tuan, di halaman rumah orang yang selalu ia cintai. Hanya gagak-gagak peliharaannya yang menemaninya sambil mematuki mayatnya.

 

Setelah dua hari, barulah John waras. Ia pun menangis dengan sadar, sejadi-jadinya. Dengan tangannya sendiri John mengebumikan tubuh Ellia-nya yang sudah tak utuh.

 

Kemudian, di tanah kuburan Ellia, John mendirikan rumah.

 

Kehidupan berubah dengan cepat. Manusia berubah. Zaman berubah. Namun, kenangan—bagi yang mengembannya—masih selalu terasa hangat dan hebat meski sudah delapan puluh tahun berlalu, Tuan.

 

Lambat-laun orang-orang memenuhi pesisir itu lagi. John memugar rumah dan mengubahnya menjadi motel. Secara otomatis ia dikenali sebagai pemilik daerah tersebut. Mereka yang ingin mendirikan bangunan di sana meminta izin kepadanya terlebih dahulu.

 

Begitulah, Tuan. Sekarang mari kita lebarkan kembali lanskap panggung.

 

Kita lihat John tua masih berdiri di sana, dan setelah sinar di matanya meredup, ia naik ke kamar penyewa itu susah payah. Diketuknya pintu kamar itu. Tak ada jawaban.

 

Pintu kamar itu tak dikunci. John masuk. Matanya langsung dihadapkan dengan seorang perempuan yang berdiri di kusen jendela dan terbang seperti burung.

 

Tuan, seandainya ada manusia yang bisa menumbuhkan sayap, tentu perempuan itu sudah terbang dengan benar, bukan hanya dengan nyawanya.

 

Hal itu membuat John terkesima, dan sebelum lari ke luar ia melihat kertas di kasur perempuan itu.

 

Mata rabun John tentu sudah tidak sanggup membacanya, tetapi mari kita baca kalimat yang ditulis perempuan itu, Tuan!

Apakah masih disebut cinta bila aku juga mati?

Tuk! Tuk! Tuk!

Ah, bunyi sialan itu lagi.

Aku berhenti menyunting tulisan yang aku salin dan tempel dari sana-sini. Belakangan ini jendelaku makin sering diketuk-ketuk, dan yang itu entah sudah ke berapa kali.

Sebulan lalu, sepulang merayakan pernikahanku dengan Selena, seekor burung gagak menjatuhkan kertas berisi catatan: Kisahkan aku sesuatu, atau burung-burung gagak ini mematuki mayatmu dan kekasihmu!

Awalnya aku terbahak-bahak dan mengolok-olok bahwa aku dan Selena akan mati membakar diri, tetapi sekarang tidak.

Orang mungkin tidak percaya, tapi sungguh! Burung-burung itu tak pernah meninggalkan rumah kami sedikit pun. Ke mana pun aku dan Selena pergi, mereka selalu mengikuti.

Sepertinya aku harus segera menyerahkannya. Persetan pengirim burung-burung sialan itu akan puas apa tidak!

Seandainya aku pengarang bukan buruh pabrik, mungkin tak kan kesulitan membuat cerita.

Sialan!

Sebenarnya apa yang terjadi?

 

Curugkembar, 1 Maret 2026.


Post a Comment

0 Comments