Cerpen Terjemahan Entri 12
Artikel/konten yang sedang Anda coba akses ini merupakan bagian dari materi premium yang kami siapkan secara khusus untuk komunitas pelanggan kami. Untuk menjaga nilai dan kualitasnya, kami melindunginya dengan kata sandi.
Ini adalah cara kami untuk memastikan bahwa para pelanggan mendapatkan materi terbaik dan paling mendalam yang tidak tersedia di tempat lain.
.
AmnestiJose Dalisay Jr.
Sebelum aku sempat
menyadarinya, ia sudah melihatku. Aku duduk di kursi kosong di sebelahnya,
berharap tadi aku naik bus lain, namun di saat yang sama, tanpa bisa menolak,
aku ingin menjangkau melintasi tahun-tahun yang telah lewat dan merangkul masa
mudaku.
Ia mengulurkan tangan dan
menggenggam tanganku dengan sambutan yang penuh harap. Telapaknya kasar,
jarinya berwarna cokelat tua di sekitar kuku. Ia tampak menua dan lebih kecil
di mataku, seolah-olah dagingnya telah surut, mundur ketakutan, untuk menghangatkan
tulang. Sebuah bandana hitam tebal menutupi sebagian wajahnya, dan di senyumnya
tampak celah di sudut-sudut mulut tempat gigi dan gusinya telah mengering,
halus seperti licin. Ia mengenakan kemeja laki-laki yang besar dan celana rajut
murah. Kakinya bersandar pada sepasang sandal karet kuning bergambar bunga
aster di antara jempol dan jari telunjuk kakinya. Di dadanya, di pangkuannya,
ia memeluk erat kantong plastik biru berisi sesuatu yang tampak seperti pakaian
ganti.
Aku teringat seorang gadis
berbaju tunik putih dan rok hijau muda, yang dulu memukau para remaja pejuang
di ruangan belakang gedung serikat mahasiswa yang disebut—entah
mengapa—Trialogue. Mungkin ia adalah sosok di sudut lain dari masa itu,
ditandai oleh tatapan-tatapan gugup di antara percakapan kami yang penuh
semangat tentang sejarah. Aku masih terlalu muda untuk mengungkapkan apa pun
padanya, seorang mahasiswa baru di hadapan mahasiswi tingkat tiga. Namun dari
keramaian mesin stensil dan di antara ember cat tekstil untuk spanduk
perjuangan kami, dua puluh dari kami secara diam-diam telah bersumpah untuk
mengabdi dan melindunginya, di barikade dan garis piket, bahkan setelah ia
pergi meninggalkan kami.
Aku teringat rambutku yang
dulu jatuh menutupi kening, di usia tujuh belas; mungkin itu cara ia
mengingatku dulu. Aku berduka atas waktu yang hilang, tetapi matanya masih
jernih dan genggamannya masih kuat, membuatku sadar bahwa ia belum kehilangan
keyakinannya padaku. Saat itu aku melihat bahunya tampak lebih lebar, seperti
bahu perenang, membuat tubuhnya yang lain tampak kecil. Pasti ada bantalan otot
di bawah kerahnya.
“Kapan kamu keluar?”
tanyaku.
“Kemarin. Aku tak percaya.
Kukira itu jebakan. Kukira itu mimpi. Gerbangnya terbuka dan orang-orang
tertawa, bertepuk tangan. Aku pikir aku sudah mati dan masuk surga!”
Pemerintah baru telah
mengumumkan amnesti umum bagi tahanan seperti dirinya, membebaskan mereka agar
ikut bergembira di jalanan. Banyak hal terjadi sekaligus; aku sendiri mungkin
akan kehilangan pekerjaan sebagai staf menteri yang kabur bersama sang diktator
ke Hawaii.
“Berapa lama kamu di dalam?”
tanyaku.
“Enam tahun.”
Selama enam tahun itu,
pikirku, aku telah menata kembali masa depan dari kekacauan. Aku menyelesaikan
MBA, menikah, memiliki seorang anak perempuan berpipinya merah muda, dan sudah
mencicil rumah di kompleks perumahan serta mobil dua liter. Mobil itu sedang di
bengkel untuk dicat ulang ketika para pemberontak mengambil alih; kini aku tak
punya uang untuk menebusnya dan terpaksa naik bus ke kantor, mengurus
berkas-berkasku, sambil menatap keluar jendela di antara tirai yang setengah
terbuka, melihat orang-orang memadati jalan dengan kegembiraan mereka.
“Tapi terakhir kali kita
bertemu itu kapan ya? Ah, aku ingat, di pemakaman Tino. Kamu datang ke kapel,
berbicara padaku, tapi aku tak ingat apa yang kamu katakan.”
Aku memang mengatakan
sesuatu padanya sepuluh tahun lalu, saat ia berdiri di samping peti mati
suaminya, menerima kami, para kawan dan yang tersisa. Itu masa yang sulit; kami
hidup dalam mimpi buruk, berusaha tetap bertahan di tengah kabar teman-teman yang
diseret ke mobil, disetrum hingga melayang di antara sadar dan mati, disiksa
dengan setrika panas, dibius, dibekukan di atas bongkah es. Kami menghormati
mereka seperti Tino, yang berjuang di pegunungan, di antara lintah, bertahan
hidup dengan akar dan daun. Kami menghormati mereka dengan kagum, marah, dan
takut mendengar dalam benak kami dentuman tembakan dan teriakan penolakan,
melalui darah dan tanah yang menutup mulut, menolak dikubur hidup-hidup di
lereng Panay atau Cagayan, atau di mana pun teman-teman Trialogue kami gugur.
Mereka akhirnya ditemukan oleh ayah-ayah yang sabar dan dikembalikan ke rumah,
ke pangkuan keluarga dan Kristus, berbulan-bulan kemudian, hanya tinggal
tumpukan tulang dan daging yang koyak, padat, tapi sangat dicintai. Kami mencintai
semuanya, perempuan-perempuan yang dadanya dihisap sebelum disayat, rahimnya
ditusuk bayonet, bibirnya dibakar asam. Namun di tengah cinta itu, kami tetap
menghirup udara hangat dan kotor kota kami, bertekad untuk bertahan hidup di
antara kecoak.
Tak lama setelah pemakaman,
aku mendengar kabar bahwa ia pergi ke kampung halaman Tino, ingin melihat
sendiri bagaimana kehidupan suaminya di sana. Aku sering bertanya-tanya mengapa
ia tidak ikut bersama Tino sejak awal. Tapi saat itu Tino hanyalah buruh pabrik
semen, dan ia mahasiswa fisika. Bertahun-tahun kemudian, ketika aku merasa
sudah lepas dari segala romantisme, aku berpikir bahwa pernikahan yang lahir di
“surga Marxis” memang ditakdirkan berantakan. Ia baru kembali setelah
tertangkap, berita yang dimuat di semua koran, dijuluki sebagai “pejuang
wanita” yang pincang setelah baku tembak.
“Aku ingin menemuimu waktu
itu,” kataku, “banyak kali.”
Bus kami berhenti di
perempatan, dan segerombolan anak kecil penjual kalung sampagita mengerubungi
jendela kami; aroma bunganya membuatku tak nyaman, tapi ia mencondongkan tubuh
ke luar jendela untuk membeli satu.
“Aku pikir begitu,” katanya,
“tapi tidak apa-apa. Berapa harganya?”
Aku cepat-cepat merogoh saku
mencari uang receh dan memaksa untuk membayarnya. Ia mencium harum bunga itu
dengan senang saat bus kembali melaju.
“Terima kasih,” katanya,
menggantung kalung itu di lehernya. “Norak,” tambahnya sambil terkikik.
“Aku dapat pekerjaan,”
kataku. “Aku menikah. Aku pikir aku harus mencobanya. Pekerjaannya bagus, tapi
sekarang sudah hilang.”
“Kamu orang baik,” katanya
sambil menepuk lenganku. “Kamu akan dapat yang lain.”
Aku memainkan jam tangan
baruku dan berkata, “Entahlah.” Aku tahu aku terlambat kerja, tapi toh tak ada
pekerjaan, jadi aku tertawa. “Siapa tahu, siapa peduli?”
“Terus terang,” katanya,
“aku tak begitu ingat kamu. Kamu dulu anak laki-laki berjaket. Itu sebabnya aku
mengenalmu di pemakaman. Kalau tidak, mungkin tidak.”
“Aku tiga puluh dua
sekarang.”
“Rambutmu beda.”
“Iya.”
“Aku tiga puluh lima,”
katanya. “Aku bahkan tak pernah membayangkan kita bisa sampai usia tiga puluh.
Aku berulang tahun di penjara. Mungkin aku harus berterima kasih pada penjara
karena membuatku tetap hidup.”
“Kita semua bertahan,”
kataku.
“Kebanyakan dari kita,”
ujarnya sambil menatap ke jalan yang baru dicor. Pusat perbelanjaan tumbuh di
kedua sisinya.
“Aku mendengar tentangmu,”
kataku. “Sesekali aku masih mengikuti kabar.”
Dalam pertemuan-pertemuan
dengan bekas kawan seperjuangan, kami sering mengangkat gelas untuk mengenang
yang gugur dan saling bertukar kabar tentang yang masih hidup. Dari sana aku
tahu tentang operasi di kakinya, tentang bagaimana ia dijadikan koki sekaligus
gundik bagi beberapa sersan yang berkuasa, tentang upayanya melarikan diri,
lalu penangkapannya kembali. Aku masih ingat malam itu dengan jelas, kami minum
untuk mengenangnya, tetapi berakhir dengan saling memaki karena ada yang berani
menyebut namanya.
Kami menenangkan diri dengan
berjanji akan mengunjunginya di penjara, membawakan kue dan bunga yang belum
pernah dilihat tahanan mana pun. Tapi begitu pagi datang dan lalu lintas macet,
kami semua melupakannya. Begitulah kenyataannya. Sekali waktu, saat aku berada
di pesawat dari Singapura, mengulum buah ceri salad, Vivaldi berdenting di
telingaku, aku tiba-tiba teringat pada kekerasan yang merajalela di pulau-pulau
kecil di bawah sana. Aku berharap pesawat kami lenyap saja ke dalam awan, masuk
ke pelukan malaikat yang penuh ampunan.
“Jadi, kamu mau ke mana?”
tanyaku.
“Ke Zapote. Ibu Tino tinggal
di sana. Atau dulu tinggal di sana, aku tidak tahu. Ia sudah lama berhenti
menjengukku.”
“Kamu akan tinggal di sini?”
“Tergantung. Kalau beliau
masih hidup, kalau beliau memintaku… yah, mungkin. Tapi itu tidak terlalu
penting. Tadi malam aku tidur di Luneta. Aku belum pernah melihat begitu banyak
orang berjalan-jalan jam dua pagi.”
“Itu tempat yang berbahaya,”
kataku.
Ia tertawa, membuatku merasa
bodoh. Lalu, dengan nada lebih tenang, ia menatap kuku-kukunya yang tebal dan
tak terawat, lalu berkata pelan, “Aku ingin mengecat kuku ini dan memakai gaun.
Hanya untuk melihat rasanya. Tapi hal-hal yang kutakutkan, mungkin kamu tak
akan mengerti.”
Aku teringat istriku yang
muda dan cantik, enam bulan mengandung anak kedua kami. Ia berpura-pura tenang
di meja dapur saat aku pergi, mengiris daging ayam dengan pisau tipis.
Aku sendiri takut akan
terlalu banyak hal: takut pisau itu tergelincir dan melukai tangannya; takut
tak mampu membayar cicilan rumah dan mobil; takut tertangkap karena menyeberang
sembarangan dan kemudian tuduhan subversif lamaku dibuka kembali oleh jaksa
yang rajin; takut tersedak makanan; takut bertemu kawan lama dan mendengar
kabar mengerikan yang sama, sesekali diselingi cerita keberanian yang sulit
dipercaya di hadapan kematian yang pasti; takut akan kematianku sendiri yang
terjadi sia-sia.
“Apakah semuanya sulit
bagimu?” tanyaku akhirnya. Dalam benakku, aku bertanya-tanya apakah di penjara
ia punya pilihan sarapan, jus, teh, atau kopi.
“Di awal, iya,” jawabnya.
“Aku harus terus mengingatkan diriku bahwa aku lebih dari sekadar tubuhku.
Maksudku, aku berusaha memikirkan hal-hal yang lebih baik, hal-hal yang
membuatku ingin tetap hidup. Itu yang paling sulit.”
“Hal-hal seperti apa yang
kamu pikirkan?”
“Masa depan. Masa lalu. Aku
meyakinkan diriku bahwa suatu hari nanti semuanya akan menyatu. Bahwa kita
semua akan bertemu lagi, memulai dari awal. Dan, lihatlah, sekarang kita di
sini.”
Ia tersenyum dan senyumnya
menerangi sudut-sudut jiwaku yang telah lama gelap.
.jpg)